BONE– Kamis (9/4/2026), aliran Sungai Panyula mengalir seperti biasa. Tenang di permukaan, namun menyimpan kisah pilu yang mengguncang warga Kelurahan Panyula, Kecamatan Tanete Riattang Timur, Kabupaten Bone.

Seorang nelayan yang hendak melaut tak pernah menyangka, rutinitas paginya justru akan menjadi penutup dari sebuah pencarian panjang. Di antara arus sungai, ia menemukan tubuh kecil yang sejak sehari sebelumnya dicari banyak orang Adam, bocah lima tahun yang hanyut dan tak kembali.

Penemuan itu segera menyebar. Harapan yang sempat menggantung di antara warga pun perlahan luruh, berganti duka yang tak terbendung.

Camat Tanete Riattang Timur, Andi Habibie, membenarkan kabar tersebut dengan suara singkat namun sarat makna.

“Korban sudah ditemukan,” ujarnya.

Peristiwa itu bermula pada Rabu (8/4/2026) sore, sekitar pukul 17.00 Wita. Sungai Panyula yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan warga, mendadak berubah menjadi lokasi tragedi.

Berdasarkan laporan dari BPBD Kabupaten Bone, dugaan sementara menyebutkan Adam terbawa arus saat berusaha mengambil mainannya yang terjatuh ke sungai.

Sebuah momen kecil yang mungkin tampak sepele—berubah menjadi takdir yang tak bisa ditarik kembali.

Sejak kabar hilangnya Adam tersebar, warga tak tinggal diam. Mereka berbondong-bondong menyusuri bantaran sungai, berharap menemukan tanda-tanda keberadaan bocah itu.

Tim gabungan pun segera turun tangan. Personel dari Basarnas, Satpol PP, SAR Brimob, serta BPBD Kabupaten Bone bekerja tanpa lelah, menyisir aliran sungai hingga malam tiba.

Namun gelapnya malam memaksa pencarian dihentikan sementara.

Di balik keputusan itu, tersimpan harapan yang masih dipeluk erat oleh keluarga dan warga bahwa esok akan membawa kabar baik.

Namun pagi itu berkata lain.

Sungai Panyula akhirnya mengembalikan Adam, namun bukan dalam pelukan hangat, melainkan dalam keheningan yang menyayat hati.

Tangis keluarga pecah. Warga yang sejak awal mengikuti pencarian tak mampu menyembunyikan kesedihan. Sungai yang sehari-hari menjadi bagian dari kehidupan, kini menjadi saksi kehilangan yang mendalam.

Peristiwa ini menjadi pengingat getir bahwa di balik keseharian yang tampak biasa, selalu ada risiko yang mengintai, terutama bagi anak-anak yang bermain di sekitar aliran air.

Adam mungkin telah pergi, namun kisahnya akan terus hidup sebagai pelajaran bagi banyak orang tentang kewaspadaan, kepedulian, dan betapa berharganya setiap detik kebersamaan. (*)