BONE– Pasca Hari Raya Idulfitri di Kabupaten Bone tak hanya diwarnai silaturahmi dan kunjungan keluarga, tetapi juga geliat hajatan pernikahan yang meningkat tajam. Tradisi lama kembali hidup, berpadu dengan semangat baru masyarakat yang memanfaatkan momentum Syawal sebagai waktu yang dianggap penuh berkah untuk memulai kehidupan rumah tangga.
Berdasarkan data Sistem Informasi Manajemen Nikah (Simkah) di Provinsi Sulawesi Selatan, sejak 22 hingga 25 Maret 2026 tercatat sebanyak 168 pendaftar nikah. Angka ini mencerminkan lonjakan signifikan, baik dari pendaftaran melalui aplikasi maupun yang datang langsung ke Kantor Urusan Agama (KUA).
Fenomena ini terasa nyata hingga ke tingkat kecamatan. Di KUA Kecamatan Ulaweng Kabupaten Bone, aktivitas layanan pernikahan meningkat drastis bahkan hanya sehari setelah Idulfitri. Para penghulu dan petugas KUA langsung disibukkan dengan agenda pengawasan dan pencatatan akad nikah yang tak kunjung sepi.
Kepala KUA Kecamatan Ulaweng, H. Muhammad Saleh, S.Pd.I., M.Pd, mengungkapkan bahwa lonjakan ini sudah menjadi pola tahunan. Meski pemerintah tengah menerapkan skema Work From Anywhere (WFA), pelayanan publik di KUA tetap berjalan optimal.
“Momentum pasca lebaran memang selalu menjadi puncak permohonan nikah. Tradisi masyarakat Bugis yang memilih bulan Syawal sebagai waktu menikah membuat layanan di KUA ikut meningkat. Sebagai ASN, kami tetap berkomitmen memberikan pelayanan maksimal,” ujarnya.
Bagi masyarakat Bone, pernikahan bukan sekadar prosesi administratif, melainkan peristiwa adat yang sarat makna. Rangkaian ritual seperti mappacci (penyucian diri), mappenre botting (mengantar mempelai), mappasikarawa (sentuhan pertama), mapparola (kunjungan balik), hingga massita beiseng (silaturahmi keluarga) menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya pernikahan Bugis.
Tradisi ini pula yang membuat bulan Syawal selalu dinanti. Selain diyakini membawa keberkahan, momen ini juga memudahkan keluarga besar untuk berkumpul, mengingat suasana lebaran masih terasa hangat.
Di tengah padatnya jadwal, KUA Ulaweng tetap menjaga ritme pelayanan. Para petugas harus sigap membagi waktu antara administrasi di kantor dan pengawasan langsung di lapangan. Tidak jarang, dalam satu hari, beberapa lokasi akad harus didatangi secara bergantian.
Lonjakan pernikahan pasca lebaran ini bukan sekadar angka statistik. Ia adalah potret hidup masyarakat Bone yang menjaga harmoni antara tradisi, agama, dan pelayanan publik. Di balik setiap akad yang terlaksana, ada kerja kolektif antara keluarga, adat, dan negara yang saling menopang. Dan di bulan Syawal ini, cinta, adat, dan keberkahan kembali dipertemukan dalam satu ikatan suci: pernikahan. (*)


Tinggalkan Balasan