BONE– Di bawah kepemimpinan Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M. bersama Wakil Bupati Dr. H. Andi Akmal Pasluddin, M.M., Pemerintah Kabupaten Bone terus menunjukkan komitmennya menghadirkan wajah kota yang bersih, indah, sekaligus sarat makna sejarah. Melalui tagline BerAmal, perhatian pemerintah daerah tidak hanya tertuju pada kebersihan Kota Watampone, tetapi juga menyentuh ruang-ruang publik bernilai historis, salah satunya Taman Arung Palakka.
Taman yang menjadi salah satu ikon ruang terbuka hijau Watampone itu kini tak sekadar dipercantik dengan aneka bunga dan penataan lingkungan. Lebih dari itu, pemerintah daerah melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bone melakukan perawatan serius terhadap Patung Raja Bone ke-15, La Tenritatta Arung Palakka (1672–1696)—tokoh besar yang dikenal sebagai pemersatu kerajaan-kerajaan Bugis dan pemimpin pada puncak kejayaan Bone.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bone, Dray Vibriantor, S.IP., M.Si., mengungkapkan bahwa pengecatan dan pembenahan Patung Arung Palakka menjadi salah satu fokus utama dalam penataan Taman Arung Palakka saat ini. Menurutnya, perawatan patung tersebut tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan melalui proses teknis yang cukup detail dan bertahap.
“Pengecatan tidak langsung jadi. Ada tahapan-tahapan yang harus dilalui, mulai dari cat dasar, rekonstruksi warna hitam, hingga lapisan berikutnya dengan sistem layer. Totalnya bisa mencapai empat sampai lima lapisan,” jelas Dray.
Menariknya, bagi Dray Vibriantor, kegiatan pengecatan Patung Arung Palakka ini memiliki cerita tersendiri, bahkan ia menyebutnya seperti sebuah takdir. Ia mengingat, pengecatan terakhir patung tersebut juga dilakukan saat dirinya masih menjabat sebagai Kasatpol PP Kabupaten Bone pada periode kedua kepemimpinan H.A.M. Idris Galigo sebagai Bupati Bone.
“Saya berakhir sebagai Kasatpol PP pada tahun 2012. Saat itu, saya juga mendapat tugas melakukan pembenahan dan pengecatan patung ini. Dan sekarang, di era kepemimpinan BerAmal, saya kembali diberi amanah yang sama,” ungkapnya dengan nada reflektif.
Tak hanya soal warna, aspek pencahayaan juga menjadi perhatian. Sistem pencahayaan dirancang sedemikian rupa agar patung terlihat lebih hidup, baik pada siang maupun malam hari, sehingga nilai artistik dan historisnya semakin terasa oleh masyarakat yang berkunjung.
Langkah ini menjadi simbol bahwa pembangunan di Kabupaten Bone tidak hanya berorientasi pada fisik semata, tetapi juga pada upaya merawat sejarah dan memperkuat identitas daerah. Di tangan BerAmal, Taman Arung Palakka bukan sekadar ruang publik, melainkan ruang refleksi sejarah, kebanggaan, dan jati diri orang Bone. (*)



Tinggalkan Balasan