BONE– Nama Aleksandro Del Tyas bukanlah sosok asing dalam denyut nadi sepak bola Kabupaten Bone. Ia pernah dikenal sebagai pelatih legendaris—figur di balik lahirnya sejumlah pemain bertalenta yang mengharumkan nama daerah. Di masa itu, pinggir lapangan hijau adalah ruang pengabdiannya, tempat ia meracik strategi sekaligus menanamkan karakter kepada para pemain muda.
Namun, selama kurang lebih 15 tahun terakhir, nama Aleksandro lebih sering terdengar di ruang-ruang birokrasi pemerintahan. Ia memilih jalan pengabdian lain sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) dan dipercaya mengemban amanah sebagai Kepala Bidang Pengembangan Pemuda di Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Bone.
Vakum panjang dari dunia kepelatihan bukan berarti cinta itu sirna. Di balik meja kerja, Aleksandro tetap konsisten memperjuangkan masa depan generasi muda melalui kebijakan, program kepemudaan, serta pengembangan olahraga lintas sektor. Sepak bola mungkin tak lagi ia sentuh secara langsung, tetapi ruhnya tetap hidup dalam setiap kebijakan yang ia dorong.
Titik balik itu datang saat Turnamen Beramal Cup akan digelar pekan depan. Ajang ini bukan sekadar kompetisi, melainkan panggung kepedulian dan solidaritas sosial. Di sanalah nurani Aleksandro Del Tyas terpanggil memintanya kembali ke peran lama yang pernah ia cintai sepenuh hati.
Dengan kerendahan hati, A. Del Tyas menerima amanah menukangi FC Dispora. Keputusan tersebut diambil bukan demi sorotan publik atau romantisme masa lalu, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab moral terhadap pembinaan pemuda dan olahraga yang selama ini ia perjuangkan dari balik birokrasi.
“Sepak bola bukan hanya tentang menang, tapi tentang nilai, kebersamaan, dan kepedulian,”
menjadi prinsip yang ia tanamkan kepada para pemainnya.
Meski telah lama tak melatih, sentuhan tangan dingin Aleksandro masih terasa kuat. Ia hadir dengan pendekatan yang matang, tenang, dan penuh perhitungan. Pengalamannya di lapangan berpadu dengan kecakapannya sebagai birokrat, menjadikan manajemen tim FC Dispora berjalan disiplin, terarah, dan sarat nilai edukatif.
Ia tidak sekadar meracik strategi permainan, tetapi juga membangun mental bertanding, solidaritas tim, serta tanggung jawab sosial—nilai yang selaras dengan semangat Turnamen Beramal Cup itu sendiri.
Kembalinya Aleksandro Del Tyas ke dunia kepelatihan menjadi bukti bahwa dedikasi sejati tak pernah lekang oleh waktu. Justru, jeda 15 tahun itu mematangkan cara pandangnya dalam memimpin, membina, dan menginspirasi.
Kini, Aleksandro Del Tyas berdiri sebagai contoh nyata bahwa pengabdian sebagai ASN dan insan olahraga dapat berjalan seiring. Ia menyatukan idealisme olahraga dan tanggung jawab birokrasi, sekaligus menunjukkan bahwa panggilan nurani untuk membina generasi muda bisa hadir kapan saja—dan selalu layak untuk dijawab. (*)



Tinggalkan Balasan