JAKARTA– Di penghujung masa jabatannya sebagai Kepala UPT SMAN 13 Bone, Drs. Hamzah, MM menutup perjalanan panjangnya di dunia pendidikan dengan torehan yang tidak biasa: Piala Adiwiyata Mandiri, penghargaan tertinggi bagi sekolah berbudaya lingkungan di Indonesia. Penghargaan bergengsi yang diserahkan langsung kepada Hamzah pada Kamis, 11 Desember 2025 oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI. Penghargaan tersebut menjadi bukti nyata bahwa dedikasi puluhan tahunnya tidak hanya menorehkan prestasi, tetapi juga warisan pendidikan yang berkelanjutan.
Predikat Adiwiyata Mandiri bukan capaian mudah. Sebuah sekolah baru dapat mencapainya setelah konsisten menggerakkan pendidikan lingkungan hidup selama lebih dari tiga tahun serta membina sedikitnya lima hingga sepuluh sekolah lain hingga ikut meraih predikat Adiwiyata. Artinya, capaian ini bukan hanya milik SMAN 13 Bone, tetapi juga menggambarkan kemandirian, kepemimpinan, dan pengaruh Hamzah dalam menggerakkan sekolah-sekolah lain di Kabupaten Bone.
Hamzah yang akan memasuki masa purna bakti pada Januari 2026 bukanlah nama baru bagi dunia pendidikan Bone. Langkahnya dimulai pada tahun 1993 sebagai guru teknik keterampilan di SMA PGRI Bone. Pada masa itu, keterbatasan tenaga pendidik membuatnya harus mengajar berbagai mata pelajaran. Pengalaman itu menjadi fondasi kecintaannya pada profesi guru.
Tahun 2004 menjadi titik balik ketika ia dipercaya menjadi Pengawas SMP Kabupaten Bone. Selama lima tahun, puluhan sekolah ia dampingi. Salah satu kenangan yang paling membekas baginya adalah saat bertugas di sebuah SMP swasta di Tabbae, wilayah yang dulu medannya cukup berat.
“Kadang harus dorong motor karena jalannya susah. Tapi masyarakatnya luar biasa menghargai pendidikan,” kenangnya.
Perjalanan kariernya terus berlanjut. Pada 2009 ia beralih ke SMAN 1 Ulaweng (kini SMAN 15 Bone), dan lima tahun kemudian dilantik menjadi kepala sekolah. Estafet kepemimpinannya berpindah dari satu sekolah ke sekolah lainnya: SMAN 1 Ulaweng, SMAN 18 Bone (dulu SMAN 1 Cina) pada 2017, SMAN 30 Bone di Palakka pada 2019, hingga akhirnya ditugaskan memimpin SMAN 13 Bone pada akhir 2022.
Di bawah komandonya, SMAN 13 Bone mengalami kebangkitan signifikan. Sekolah ini berhasil:nMempertahankan akreditasi A, Meraih Adiwiyata Kabupaten, Provinsi, dan Nasional, Meningkatkan jumlah siswa yang lolos PTN jalur prestasi dan tanpa tes. Menjadi salah satu sekolah dengan peminat terbanyak di Bone bersanding dengan SMAN 1 Bone. Dan kini, puncaknya adalah Adiwiyata Mandiri, penghargaan yang menjadi persembahan terakhir Hamzah sebelum mengakhiri masa jabatannya.
Selama tahun terakhirnya, Hamzah juga menerima dua penghargaan tingkat nasional yang semakin menegaskan rekam jejaknya: Satyalancana Karya Satya XXX Tahun dari Presiden RI Prabowo Subianto dan Lencana Melati dari Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, tanda kehormatan tertinggi bagi insan Pramuka yang dinilai berjasa mengembangkan gerakan tersebut. Kedua penghargaan ini menjadi refleksi dari konsistensi dan ketulusan Hamzah dalam membina generasi muda.
Bagi Hamzah, capaian Adiwiyata Mandiri bukan sekadar trofi. Ia melihatnya sebagai momentum perubahan cara berpikir seluruh warga sekolah. “Predikat ini adalah ajakan untuk mengubah cara pandang. Untuk bersama menjaga keindahan, kebersihan, dan menciptakan suasana belajar yang nyaman dan asri,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi dukungan pemerintah daerah. Gubernur Sulawesi Selatan menegaskan pentingnya sekolah yang bersih dan berkarakter. Bupati Bone dan Wakil Bupati pun, menurutnya, terus mendorong terciptanya ekosistem pendidikan yang lebih baik, nyaman, dan progresif. “Beliau berdua bekerja tanpa henti untuk Bone yang lebih maju,” tambahnya.
Dengan diraihnya Adiwiyata Mandiri, Hamzah menutup masa jabatannya dengan catatan emas. Di balik penghargaan itu adalah perjalanan panjang seorang guru yang sejak awal percaya bahwa pendidikan bukan hanya soal mengajar, tetapi membangun karakter, lingkungan, dan masa depan. Ketika Januari 2026 tiba dan statusnya berubah menjadi purna bakti, Hamzah mungkin meninggalkan ruang kerjanya, tetapi jejak pengabdiannya akan tinggal lama di SMAN 13 Bone dan di dunia pendidikan Kabupaten Bone secara keseluruhan. (*)



Tinggalkan Balasan