BONE–Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M., didampingi Wakil Bupati Bone Dr. H. Andi Akmal Pasluddin, M.M., memimpin pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan puluhan pejabat Eselon III, Eselon IV, serta sejumlah pejabat fungsional lingkup Pemerintah Kabupaten Bone Rabu, 05 November 2025.

Pelantikan tersebut menjadi bagian dari upaya penyegaran birokrasi sekaligus penguatan tata kelola pemerintahan daerah. Rangkaian kegiatan berlangsung hangat namun penuh makna, ditandai dengan pembacaan SK, pengambilan sumpah jabatan, dan penandatanganan berita acara pelantikan.

Setelah prosesi selesai, Bupati Andi Asman menyampaikan ucapan selamat kepada para pejabat yang baru saja dilantik. Ia menegaskan bahwa jabatan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan, bukan sekadar kedudukan struktural.

“Semoga amanah ini menjadi berkah, menjadi hidayah, dan menjadi petunjuk dalam menjalankan tugas. Selamat bekerja. Tidak perlu ada pikiran ‘saya di sini’ atau ‘saya di situ’. Semua ini melalui proses penilaian dan tahapan panjang,” tegas Bupati.

Bupati juga mengingatkan bahwa tidak sedikit ASN yang belum menjalankan amanah jabatan secara maksimal, sehingga evaluasi dan penataan birokrasi terus dilakukan. Ia meminta seluruh pejabat yang dilantik agar bekerja dengan sungguh-sungguh, profesional, dan bertanggung jawab.

Lebih lanjut, Bupati menekankan bahwa tantangan penyelenggaraan pemerintahan saat ini semakin kompleks. Pemerintah Kabupaten Bone harus responsif terhadap berbagai isu, termasuk pengentasan kemiskinan, penurunan angka putus sekolah, penanganan pengangguran, hingga penguatan ketahanan daerah sesuai arahan Instruksi Presiden.

“Tugas kita bukan hanya menjalankan administrasi. Kita harus hadir di tengah masyarakat. Ada keluarga miskin, anak putus sekolah, pengangguran, dan masalah sosial lainnya yang harus kita selesaikan bersama,” ujarnya.

Andi Asman menegaskan bahwa pemerintah daerah harus bekerja linier dengan kebijakan pusat dan provinsi, serta memastikan seluruh program berjalan tepat sasaran. Ia meminta para pejabat yang dilantik untuk menjaga komitmen, disiplin, dan integritas dalam setiap tanggung jawab yang diemban.

Pelantikan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi internal, mempertegas arah kebijakan pembangunan, dan memastikan pelayanan publik berjalan lebih optimal di seluruh wilayah Kabupaten Bone.

Ia menegaskan bahwa pelantikan bukan sekadar seremonial. Ke depan, setiap pejabat dituntut menunjukkan kinerja nyata sesuai peran dan lokasi penugasan masing-masing.

“Saya tunggu komitmen kalian. Jangan sampai ada yang hanya hadir secara jabatan, tetapi tidak bekerja. Kalau ada yang tidak mampu menjalankan amanah, penggantian itu bisa saja dilakukan,” tegasnya.

Ia juga menegaskan bahwa pembangunan bukan soal janji, tetapi kemampuan menjaga amanah. Karena itu, ia meminta jajarannya untuk menghindari mentalitas asal bicara atau janji lunas tanpa bukti, termasuk dalam urusan seperti PBB dan pelayanan publik.

“Tidak ada komitmen yang abu-abu. Kalau iya, bilang iya. Kalau tidak bisa, katakan tidak. Jangan mengumbar janji. Kita ini pelayan masyarakat, bukan pencari pujian,” tegasnya.

Bupati juga mengingatkan bahwa menjadi aparatur pemerintahan berarti siap bekerja keras, bertanggung jawab, dan memiliki nyali dalam menghadapi tantangan di lapangan.

“Jangan terlalu banyak pergi ke luar tapi lupa tugas. Jadilah petarung. Bertanggung jawab yang hebat, bekerja dengan hati. Kita belajar bersama. Kalau sudah bekerja, hasil akan mengikuti.”

Ia mencontohkan pengalamannya saat membina sektor pertanian di masa lalu. Meski bukan lulusan pertanian, ia terjun langsung mendampingi petani hingga menorehkan prestasi daerah di tingkat provinsi. Hal itu, kata dia, adalah bukti bahwa kemampuan bekerja lebih penting daripada sekadar gelar.

“Keahlian bisa dipelajari. Tapi tekad dan kemauan bekerja itu yang utama,” ujarnya.

Menutup arahannya, Bupati meminta seluruh pejabat dan ASN untuk segera melaksanakan tindak lanjut administrasi, menjaga komunikasi, serta membangun kepercayaan publik.

“Tugas kita ini takdir. Setiap pertanyaan masyarakat adalah amanah. Kita harus hadir, bekerja, dan memberikan solusi. Kalau kepercayaan sudah terbentuk, apa pun programnya akan lebih mudah dilaksanakan,” katanya.

Dengan pesan itu, suasana ruangan menjadi lebih hening. Para aparatur seperti merenungi makna dari tanggung jawab yang mereka pikul. Karena pada akhirnya, pembangunan daerah bukan hanya soal anggaran dan kebijakan, tetapi tentang kepercayaan, amanah, dan hati yang bekerja untuk rakyat. (*)