
BONE–Prestasi membanggakan kembali hadir dari dunia pendidikan Kabupaten Bone. Tim riset SMP Islam Athirah Bone berhasil mencatatkan sejarah pada ajang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2025) tingkat nasional yang digelar di Universitas Surabaya (Ubaya) pada 10–16 November 2025. Dua siswa kelas VIII, Aisyah Inara dan Sri Mutia Lestari, sukses mempersembahkan medali emas sekaligus menjadi sejarah pertama sekolah tersebut melaju hingga podium nasional.
Membawa judul penelitian “WANA-CUS (Wanua Cultural Sustainability): Revitalisasi Wanua Museum Berbasis Augmented Reality (AR) sebagai Upaya Mendukung Cultural Sustainability Remaja di Kabupaten Bone,” keduanya mampu memukau dewan juri melalui inovasi teknologi yang dikolaborasikan dengan pelestarian budaya daerah. Inovasi ini dinilai menjadi terobosan penting bagi generasi muda dalam memandang cagar budaya bukan hanya sebagai objek sejarah, tetapi juga media edukasi interaktif berbasis digital.
Momentum kemenangan tersebut semakin haru saat pengumuman pemenang dilakukan. Dalam dokumentasi yang beredar, keduanya terlihat bangga dan bahagia sambil memperlihatkan sertifikat penghargaan, medali emas, serta hadiah pembinaan, simbol nyata bahwa kerja keras dan ketekunan mereka terbayar tuntas.
Kepala SMP Islam Athirah Bone, Nuraeni, S.Pd., Gr., menyampaikan rasa syukur dan bangganya atas prestasi ini. Ia mengungkap bahwa dua tahun terakhir, minat peserta didik terhadap dunia penelitian semakin meningkat. Lingkungan sekolah juga terus mendorong kreativitas dan inovasi, termasuk melalui ekstrakurikuler riset ilmiah.
“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur bahwa banyak siswa mulai menaruh minat di bidang penelitian. Apalagi dua tahun terakhir antusias siswa di lomba-lomba penelitian sangat tinggi. Terima kasih untuk pembina kami, Bu Wahidah Febriyah Ramadhani, S.Si., M.Si yang selalu setia dan sabar mendampingi anak-anak di setiap lomba,” ujarnya penuh haru.
Dosen pembimbing sekaligus pembina ekskul KIRA (Kelompok Ilmiah Remaja Athirah), Wahidah Febriyah Ramadhani, S.Si., M.Si, turut mendapatkan apresiasi karena perannya yang konsisten menanamkan mental scientific learning dan pola pikir riset sejak dini.
Nuraeni juga menegaskan bahwa prestasi ini tidak lahir secara instan, namun merupakan hasil kolaborasi antara sekolah, keluarga, guru pembimbing, fasilitas pendukung, serta kultur belajar yang mendorong inovasi dan keberanian mencoba hal baru.
Capaian ini sekaligus menjadi inspirasi bagi pelajar Bone dan Sulawesi Selatan bahwa kesempatan untuk berprestasi di panggung nasional terbuka lebar bagi siapa saja yang berani berkarya.
Dengan torehan emas di OPSI 2025, SMP Islam Athirah Bone tak hanya mengangkat nama sekolah dan daerah, tetapi juga membuktikan bahwa anak muda mampu menjaga tradisi sekaligus melangkah maju dengan teknologi. (*)



Tinggalkan Balasan