BONE– Di tengah padatnya aktivitas sebagai kepala daerah, H. Andi Asman Sulaiman justru menunjukkan bahwa menjaga kesehatan tidak harus rumit atau mahal. Kuncinya sederhana: konsisten, disiplin, dan memahami kebutuhan tubuh.

Setiap pagi, sebelum memulai rutinitas pemerintahan, ia lebih dulu menaklukkan jarak 6 hingga 7 kilometer dengan berjalan kaki. Jalan pagi bukan sekadar olahraga baginya, tetapi juga momen refleksi menyusun rencana, menenangkan pikiran, sekaligus menjaga kebugaran tubuh.

Namun yang menarik, komitmen hidup sehat itu tidak berhenti di olahraga. Meja sarapan sang bupati justru jauh dari kesan mewah. Tidak ada nasi, ayam goreng, atau hidangan berat lainnya. Sebaliknya, ia memilih menu sederhana: ubi jalar rebus, jagung, telur, dan buah-buahan.

“Bagi saya, kenyang itu tidak mesti nasi,” menjadi prinsip yang ia pegang. Pilihan ini bukan tanpa alasan. Ia secara sadar menerapkan pola makan yang lebih ringan namun tetap bernutrisi, sekaligus memberi contoh bahwa sumber energi tidak harus bergantung pada satu jenis makanan pokok.

Apa yang dilakukan Bupati Bone ini sejatinya selaras dengan konsep diversifikasi pangan upaya menganekaragamkan konsumsi dan produksi makanan agar tidak hanya bergantung pada beras. Melalui pola ini, masyarakat diajak mengenal kembali kekayaan pangan lokal seperti umbi-umbian dan jagung yang tak kalah bergizi.

Lebih dari sekadar gaya hidup pribadi, kebiasaan ini membawa pesan yang lebih luas: bahwa ketahanan pangan bisa dimulai dari pilihan di meja makan. Dengan mengonsumsi berbagai sumber karbohidrat, protein, dan vitamin lokal, masyarakat tidak hanya meningkatkan kualitas gizi, tetapi juga turut mendukung kemandirian pangan daerah.

Kesederhanaan sarapan itu pun menjadi refleksi kepemimpinan yang membumi. Tidak berlebihan, namun penuh kesadaran. Bahwa sehat bukan tentang kemewahan, melainkan tentang pilihan-pilihan kecil yang dilakukan secara konsisten setiap hari.

Dan bagi H. Andi Asman Sulaiman, pilihan itu sudah jelas: berjalan pagi, makan secukupnya, dan menjadikan pangan lokal sebagai sahabat utama tubuh. Sebuah kebiasaan sederhana yang layak ditiru. (*)