BONE — Kerja sama antardaerah tak selalu dimulai dari meja rapat yang kaku. Di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, sebuah gagasan tentang peternakan justru menemukan jalannya melalui pertemuan, jamuan makan, dan percakapan tentang potensi daerah.

Senin, 7 September 2026, Rumah Jabatan Bupati Bone menjadi saksi dimulainya kerja sama antara Pemerintah Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara, dan Pemerintah Kabupaten Bone. Wali Kota Tarakan dr. H. Khairul, M.Kes bersama Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., MM menandatangani nota kesepahaman atau MoU yang salah satu fokusnya berkaitan dengan pengembangan dan pemenuhan kebutuhan sapi untuk Kota Tarakan. Penandatanganan itu disaksikan Wakil Bupati Bone Dr. H. Andi Akmal Pasluddin, MM serta unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Bone.

Bagi Tarakan, kerja sama tersebut menjadi langkah strategis. Kebutuhan sapi di wilayah Kalimantan Utara terus menjadi perhatian, sementara Bone dikenal sebagai salah satu sentra produksi sapi terbesar di Sulawesi Selatan.

Bagi Bone, kerja sama ini bukan sekadar membuka pasar baru. Lebih jauh, menjadi kesempatan untuk mendorong peternakan rakyat agar tidak hanya mengejar jumlah populasi, tetapi juga kualitas ternak dan peningkatan nilai ekonomi bagi masyarakat.

Kedatangan Wali Kota Tarakan bersama Ketua Tim Penggerak PKK Kota Tarakan dan rombongan disambut hangat Bupati Bone beserta jajaran pemerintah daerah. Dalam suasana penuh keakraban, pembicaraan tentang kerja sama berkembang menjadi diskusi panjang mengenai masyarakat Bone, perantauan orang Sulawesi di Kalimantan Utara, hingga peluang ekonomi yang dapat dibangun melalui hubungan antardaerah.

Bupati Bone menilai kedekatan masyarakat Sulawesi dengan Kalimantan Utara menjadi modal sosial yang penting. Banyak warga asal Sulawesi, termasuk masyarakat Bugis, telah lama bermukim dan berkiprah di Kalimantan Utara.

Bupati Bone menjelaskan, selama beberapa tahun terakhir, data pemerintah daerah menunjukkan Bone konsisten memiliki populasi ternak sapi yang tinggi. Bahkan, terdapat wilayah yang jumlah sapinya disebut mampu melampaui jumlah penduduknya.

Kawasan seperti Libureng, Patimpeng, dan Kahu menjadi salah satu kecamatan populasi ternaknya sangat besar di Bone. Bagi masyarakat di wilayah tersebut, memelihara sapi bukan sesuatu yang asing. Keterampilan beternak diwariskan dan berkembang dari generasi ke generasi. Potensi itu kemudian diperkuat pemerintah melalui berbagai program, termasuk pengembangan sapi Bali dan dukungan pemerintah pusat.

Bone juga berupaya meningkatkan kualitas genetik ternak melalui pengembangan bibit dan inseminasi buatan. Langkah tersebut penting agar peternakan tidak berhenti pada peningkatan populasi, tetapi menghasilkan sapi dengan kualitas dan nilai jual yang semakin tinggi. “Yang kita harapkan bukan hanya kuantitas, tetapi kualitas,” tegasnya, sembangi menegaskan bahwa sebab, seekor sapi dengan kualitas unggul dapat memiliki nilai ekonomi puluhan juta rupiah.

Di balik angka populasi dan nilai transaksi, terdapat cerita yang jauh lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Bagi sebagian keluarga peternak, sapi adalah tabungan hidup. Bupati Bone bahkan membagikan pengalaman pribadinya ketika pernah memelihara sapi bernama “Si Boy” saat dirinya masih menjabat camat. Sapi tersebut dibeli sekitar Rp8 juta. Setelah dipelihara dan dikembangkan, nilainya meningkat berkali-kali lipat.

Cerita itu menjadi gambaran sederhana bahwa ternak sapi sebenarnya dapat menjadi instrumen ekonomi rumah tangga. Dengan lahan terbatas, pakan yang dapat memanfaatkan rumput dan sisa hasil pertanian, seekor sapi bisa memberikan nilai tambah yang cukup besar.

Persoalannya, masyarakat sering kali terpaksa menjual sapi ketika membutuhkan uang secara mendadak, terutama untuk membiayai kebutuhan pendidikan anak. Di titik inilah pemerintah Kabupaten Bone ingin menghadirkan terobosan.

Pemerintah Kabupaten Bone tengah menggagas penguatan kelembagaan peternakan melalui konsep Bank Peternakan atau koperasi peternakan di tingkat desa. Gagasannya sederhana: peternak tidak harus langsung menjual sapi ketika membutuhkan uang. Sapi yang memiliki nilai ekonomi dapat dijadikan agunan atau digadaikan melalui mekanisme kelembagaan yang disiapkan pemerintah. Dengan demikian, peternak tetap memiliki ternak unggulnya, sementara kebutuhan mendesak keluarga dapat dipenuhi.

Konsep tersebut diharapkan dapat mencegah siklus yang selama ini terjadi: sapi berkualitas dipelihara bertahun-tahun, tetapi akhirnya terpaksa dijual ketika keluarga membutuhkan uang. Jika kelembagaan tersebut berjalan, sapi tidak lagi sekadar dipandang sebagai hewan ternak, melainkan sebagai aset produktif keluarga.

Pengembangan peternakan di Bone juga tidak berdiri sendiri. Pemerintah daerah mengintegrasikannya dengan potensi pertanian melalui program inovasi Pajasa — Padi, Jagung, Sapi. Konsep tersebut menempatkan pertanian dan peternakan dalam satu ekosistem ekonomi. Jerami, rumput, sisa pertanian, hingga hasil samping tanaman dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan. Di sisi lain, kotoran ternak dapat mendukung sektor pertanian. Dengan pola seperti itu, petani tidak hanya bergantung pada satu sumber pendapatan.

Bone sendiri memiliki kekuatan besar di sektor pangan, terutama padi dan jagung. Potensi tersebut menjadi alasan penting mengapa peternakan sapi dapat dikembangkan secara terintegrasi. Selama ini, Bone telah dikenal sebagai salah satu daerah pemasok ternak, terutama pada momentum menjelang Iduladha. Arus pengiriman ternak dari Bone meningkat menjelang hari raya, dengan mobil pengangkut ternak bergerak menuju berbagai daerah.

Kerja sama dengan Tarakan diharapkan dapat membuat hubungan tersebut menjadi lebih terarah dan berkelanjutan. Bone memiliki produksi dan pengalaman beternak. Di antara keduanya terbuka ruang kerja sama yang lebih luas: dari perdagangan ternak, pengembangan peternakan, peningkatan kualitas bibit, hingga penguatan kesejahteraan peternak.

Kerja sama tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pembangunan daerah tidak harus berjalan sendiri-sendiri. Potensi suatu daerah dapat menjadi jawaban bagi kebutuhan daerah lainnya.

Bupati juga menegaskan bahwa sapi ternak selain bisa menjadi biaya sekolah anak. Bisa menjadi modal usaha. Bisa menjadi tabungan ketika keluarga menghadapi kebutuhan mendesak. Karena itu, ketika Bone dan Tarakan menyepakati kerja sama, yang dipertukarkan sesungguhnya bukan hanya sapi. Ada pengetahuan, pengalaman, pasar, dan harapan ekonomi masyarakat yang ikut bergerak.

Bone dengan hamparan lahan pertanian dan tradisi peternakannya memiliki modal produksi. Tarakan dengan kebutuhan pasar dan posisinya di Kalimantan Utara memiliki peluang untuk menjadi pasar yang strategis. Jika kerja sama tersebut dikembangkan secara konsisten, perjalanan seekor sapi dari kandang peternak di Bone menuju pasar di Tarakan kelak bukan hanya menjadi cerita tentang perdagangan antarpulau. Ia dapat menjadi cerita tentang bagaimana dua daerah yang berbeda secara geografis saling menguatkan. “Dari Bone, sapi berangkat. Dari Tarakan, pasar terbuka,” tegasnya.

Sementara itu, Wali Kota Tarakan ia menegaskan bahwa kerja sama ini bukan sekadar pertukaran dokumen antarpemerintah daerah. Ada kebutuhan nyata di baliknya: memastikan ketersediaan sapi dan daging bagi masyarakat di sebuah kota yang memiliki keterbatasan lahan peternakan.

Wali Kota Tarakan dr. H. Khairul mengatakan, karakter geografis Tarakan membuat daerahnya sangat bergantung pada pasokan pangan dari wilayah lain. “Tarakan ini tidak punya lahan pertanian, tidak punya lahan peternakan. Jadi, kami memang tergantung dari dunia luar,” ujarnya.

Kondisi tersebut membuat hampir seluruh kebutuhan pangan Tarakan harus didatangkan dari luar daerah. Untuk beras, misalnya, Tarakan selama ini mengandalkan pasokan dari Kabupaten Sidrap dan Pinrang. Komoditas telur juga banyak dipasok dari Sidrap, sementara bawang dan cabai didatangkan dari Enrekang.

Pengalaman mencari sumber pasokan pangan itu pula yang kemudian membawa Tarakan melirik Bone sebagai salah satu mitra potensial untuk kebutuhan sapi. Sebelum menjajaki kerja sama dengan Bone, Pemkot Tarakan telah memiliki hubungan pasokan sapi dengan Kabupaten Gorontalo Utara.

Kerja sama tersebut dibangun pada periode pertama kepemimpinan Khairul. Saat itu, rekomendasi pemerintah pusat, khususnya Kementerian Pertanian, menjadi salah satu pertimbangan karena wilayah yang dipilih harus memenuhi persyaratan kesehatan hewan, termasuk terkait penyakit mulut dan kuku (PMK). “Dulu kami kerja samanya dengan Gorontalo Utara. Karena waktu itu rekomendasi dari Kementerian Pertanian yang bebas PMK adalah Gorontalo Utara,” kata Khairul.

Menurut dia, kerja sama dengan Gorontalo Utara hingga kini masih berjalan. Bahkan, dukungan kapal khusus pengangkut ternak yang disiapkan pemerintah turut membantu kelancaran distribusi sapi menuju Tarakan. Namun, mengandalkan satu daerah pemasok juga memiliki tantangan tersendiri. Ketika terjadi pengetatan pengiriman atau kendala pasokan di satu daerah, Tarakan ikut merasakan dampaknya. Karena itu, Bone diharapkan menjadi sumber pasokan tambahan.

“Kalau satu daerah kadang-kadang memperketat pengiriman, kita agak kelimpungan. Kalau ada dua tempat yang menyuplai, mudah-mudahan suplai bisa lebih terjamin,” jelasnya.

Bone dinilai memiliki modal penting untuk menjadi mitra strategis Tarakan. Kabupaten ini merupakan salah satu daerah penghasil sapi di Sulawesi Selatan. Kerja sama tersebut diharapkan bukan hanya menguntungkan masyarakat Tarakan sebagai konsumen, tetapi juga peternak Bone sebagai produsen. Khairul berharap distribusi sapi dari Bone nantinya dapat membuat harga lebih kompetitif di Tarakan.

“Harapan kami kerja sama ini bisa terus berlanjut dan bisa menguntungkan kedua daerah. Menguntungkan bagi Bone, peternaknya, dan menguntungkan juga masyarakat kami,” katanya.

Menurutnya, ketersediaan pasokan menjadi persoalan penting karena kebutuhan daging di Tarakan cukup tinggi, terutama menjelang Iduladha. Sapi hidup untuk kebutuhan kurban tidak bisa digantikan dengan daging beku. Ketika pasokan terbatas dan permintaan meningkat, harga sapi pun ikut melonjak.

Ia menyebut sapi berukuran besar, termasuk jenis limosin, dapat mencapai harga sekitar Rp90 juta hingga Rp100 juta. Sementara sapi dengan ukuran umum di Tarakan berada di kisaran Rp31 juta hingga Rp32 juta per ekor.

Di tengah keterbatasan pasokan sapi hidup, masyarakat Tarakan juga dihadapkan pada masuknya daging beku dari luar negeri. Khairul menyebut sebagian daging beku yang beredar di Tarakan berasal dari Malaysia dan umumnya berasal dari India. Kondisi tersebut, menurut dia, terjadi karena masyarakat tetap membutuhkan daging ketika pasokan lokal terbatas dan harga relatif tinggi. “Daging agak relatif langka dan agak mahal. Masyarakat mau tidak mau mencari jalan sendiri,” ujarnya.

Karena itu, ia berharap kerja sama dengan Bone dapat memperkuat pasokan sapi legal dan terjamin sehingga masyarakat memiliki pilihan daging yang lebih aman serta terjangkau. “Dengan kerja sama ini, mudah-mudahan harga bisa kompetitif,” katanya.

Di balik kebutuhan tersebut, terdapat persoalan mendasar yang membuat Tarakan tidak mudah mengembangkan peternakan dalam skala besar: keterbatasan lahan.Khairul menjelaskan, ruang di Tarakan banyak digunakan untuk berbagai kepentingan strategis. Selain kawasan pertambangan dan fasilitas negara, terdapat pula kawasan militer serta hutan lindung.

Tarakan juga menjadi salah satu kota strategis di kawasan utara Kalimantan. Sejumlah institusi penting berada di kota tersebut, meskipun Tarakan bukan ibu kota Provinsi Kalimantan Utara. Kondisi itu membuat pengembangan peternakan di dalam wilayah kota menjadi terbatas. Karena itu, bagi Khairul, membangun jaringan kerja sama dengan daerah penghasil pangan menjadi pilihan yang realistis.

Bukan hanya mendatangkan sapi, ia bahkan berharap ke depan ada transfer pengetahuan bagi peternak kecil di Tarakan. “Siapa tahu nanti peternak kami juga bisa dibimbing dari sini, terutama peternak kecil-kecil,” harapnya.

Dengan pola tersebut, kerja sama Bone-Tarakan tidak berhenti pada aktivitas jual beli sapi. Ada peluang membangun rantai pasok yang lebih panjang, mulai dari pembinaan peternak, penggemukan, distribusi, hingga pemenuhan kebutuhan masyarakat.

Bagi kedua daerah, MoU ini menjadi awal untuk membangun koridor ekonomi baru yang menghubungkan sentra produksi di Sulawesi Selatan dengan pasar di Kalimantan Utara. Khairul melihat aspek transportasi juga menjadi faktor pendukung. Distribusi dari Bone menuju Tarakan dapat dilakukan melalui jalur laut, dengan berbagai kemungkinan skema pengangkutan ternak.

Jika pola tersebut dapat diwujudkan secara konsisten, Bone memiliki pasar baru untuk hasil peternakannya, sementara Tarakan mendapatkan alternatif pemasok sapi selain Gorontalo Utara. Kerja sama ini pada akhirnya berbicara tentang satu kebutuhan yang sama: produsen membutuhkan pasar, sementara konsumen membutuhkan pasokan yang terjamin. “Harapan kami kerja sama ini bisa terus berlanjut dan bisa menguntungkan kedua daerah,” ujar Khairul.

Sebelum mengakhiri kunjungannya, Khairul juga menyampaikan apresiasi atas sambutan Pemerintah Kabupaten Bone. Agenda di Bone menjadi bagian dari perjalanan dinasnya sebelum melanjutkan perjalanan ke Makassar dan kemudian ke Jakarta. Namun, yang dibawa pulang dari Bone bukan sekadar kesan kunjungan. Ada harapan baru: sapi-sapi dari sentra peternakan Bone suatu hari dapat menempuh perjalanan laut menuju Tarakan, mengisi kebutuhan masyarakat sekaligus mempertemukan dua daerah dalam satu rantai ekonomi yang saling menguntungkan. (*)