BONE–Dalam semangat memperingati Hari Bumi 2025, Gubernur Sulawesi Selatan menginisiasi gerakan “Andalan SulSel Menanam Pohon” secara serentak di seluruh wilayah provinsi Sabtum 26 April 2025. Aksi hijau ini dipusatkan di Kabupaten Maros, namun menjalar hingga ke pelosok Sulsel melalui media virtual, termasuk di sekolah-sekolah yang berada dalam naungan Cabang Dinas Pendidikan Wilayah III Bone.
Mengusung tema global “Our Power, Our Planet”, kegiatan ini tak hanya seremonial. Di UPT SMAN 13 Bone, semangat penghijauan terasa nyata. Di bawah terik matahari pagi, para siswa bersama guru-guru mereka melakukan penanaman pohon di kompleks sekolah setelah mengikuti live Zoom bersama Gubernur Sulsel. Turut hadir langsung Kasi Pembinaan SMA Cabdis Wilayah III Bone, Dr. H. Shabiel Zakaria, S.Pd., M.Pd, yang menyampaikan apresiasinya atas keterlibatan aktif sekolah dalam aksi kolektif menjaga bumi.
“Kita tidak bisa hanya berbicara soal perubahan iklim dan krisis lingkungan. Kita harus turun tangan, bahkan jika itu hanya dengan menanam satu pohon,” ujar Shabiel dengan penuh semangat. “Setiap pohon yang ditanam hari ini adalah tabungan oksigen untuk anak cucu kita di masa depan.”
Instruksi dari Cabang Dinas Pendidikan Wilayah III agar seluruh SMA, SMK, dan SLB negeri turut serta disambut baik oleh sekolah-sekolah di Bone. Aktivitas ini tidak hanya menjadi bentuk dukungan terhadap lingkungan, tapi juga pembelajaran langsung bagi generasi muda tentang pentingnya kelestarian alam.
Indonesia, sebagai negara berkembang dengan hutan tropis yang luas, memiliki tanggung jawab besar menjaga paru-paru dunia. “Silakan negara maju membangun hutan pencakar langit. Kita, cukup pertahankan belantara hutan kita,” tambah Shabiel, menegaskan peran penting kawasan hijau bagi keseimbangan bumi.
Selain menanam pohon, Hari Bumi kali ini juga menjadi momentum untuk menyuarakan pentingnya transisi menuju energi terbarukan. Pemerintah Indonesia, selaras dengan seruan dunia, menargetkan peningkatan tiga kali lipat kapasitas pembangkitan energi hijau hingga 2030.
Gerakan menanam pohon ini adalah langkah kecil dengan dampak besar. Karena bumi bukan warisan nenek moyang, tapi titipan untuk generasi yang akan datang. (*)



Tinggalkan Balasan