Sore itu, stadion bergemuruh. Harapan publik begitu tinggi ketika Timnas U-23 Indonesia berhadapan dengan Laos. Kertas statistik berbicara lantang: penguasaan bola nyaris mutlak, umpan bersambung rapi, peluang tercipta bertubi-tubi. Namun, angka di papan skor tetap membeku: 0-0. Suara peluit panjang justru meninggalkan keheningan yang getir.
Rakyat yang memenuhi tribun atau menyaksikan lewat layar kaca tahu betul: dominasi tidak selalu berbuah kemenangan. Seperti mengendalikan permainan tanpa tahu bagaimana menuntaskannya. Seperti meyakinkan diri bahwa kita lebih besar, lebih kuat, tapi lupa bahwa sepak bola pada akhirnya dihitung dari gol, bukan dari statistik.
Bukankah hal itu mirip dengan demokrasi kita hari ini?
Di atas kertas, demokrasi Indonesia begitu gagah. Kita punya pemilu lima tahunan, partisipasi rakyat cukup tinggi, kursi di parlemen penuh terisi. Namun, apakah itu cukup? Seperti dominasi timnas di lapangan, demokrasi juga sering kali berhenti pada angka—angka kehadiran, jumlah suara, kursi parlemen—tanpa mampu menerjemahkannya menjadi kesejahteraan rakyat.
Timnas U-23 kita gagal menembus benteng Laos yang begitu disiplin. Mereka seperti menghadapi dinding kokoh yang tak bisa ditembus meski punya segalanya. Dalam demokrasi, dinding itu bisa berupa korupsi yang tak pernah runtuh, birokrasi yang terlalu kaku, atau politik uang yang menghalangi idealisme. Kita menguasai wacana, tapi tidak mampu mengeksekusi; kita lantang bicara reformasi, tapi kerap lemah di ujung penyelesaian.
Laos mengajarkan hal sederhana: kekuatan bukan selalu soal jumlah, tapi tentang disiplin dan strategi. Mereka yang dianggap lemah mampu menahan gempuran yang bertubi-tubi. Itulah pula yang seharusnya dihayati demokrasi: minoritas tidak boleh ditelan mayoritas begitu saja. Kritik, oposisi, suara berbeda—justru di sanalah demokrasi diuji.
Seperti sepak bola, demokrasi tidak hanya soal siapa yang paling banyak menguasai bola, tapi siapa yang mampu memanfaatkannya untuk mencetak gol yang bermakna. Demokrasi bukan hanya soal hadir di bilik suara, tapi soal bagaimana suara itu terwujud menjadi kebijakan yang adil. Demokrasi bukan hanya pesta angka, tapi keberanian menuntaskan janji.
Suporter pulang dengan wajah campur aduk: ada kecewa, ada marah, ada pasrah. Tapi di balik itu semua, terselip juga doa dan kesetiaan. Karena sepak bola, seperti halnya demokrasi, adalah tentang harapan. Harapan bahwa besok akan lebih baik, bahwa kegagalan hari ini hanyalah pijakan menuju kemenangan esok.
Kita boleh marah ketika timnas gagal menang melawan Laos, sama seperti kita marah ketika demokrasi seakan tidak bergerak, tersandung masalah yang sama, berulang kali. Namun, marah tanpa perubahan tak lebih dari sorak-sorai yang lenyap usai peluit panjang. Pertanyaannya, apakah kita hanya mau menjadi penonton yang kecewa, atau ikut menjaga agar demokrasi ini tidak mandek di tengah jalan?
Laga itu juga mengingatkan: di balik euforia dan bendera yang dikibarkan, ada kerja keras yang belum selesai. Demokrasi pun demikian—ia bukan hadiah, bukan pesta yang datang lima tahun sekali. Demokrasi adalah proses panjang, penuh keringat, penuh risiko. Ia hidup bukan karena seremonial, tapi karena rakyat mau menjaga dan mengawalnya.
Laos mungkin kecil, tapi mereka memberi pesan besar: jangan remehkan kekuatan disiplin dan ketekunan. Demokrasi pun butuh itu. Tanpa disiplin hukum, tanpa ketekunan moral, semua aturan hanyalah formalitas. Kita akan punya banyak “penguasaan bola”, tapi nol “gol” yang berarti bagi rakyat.
Maka, mari belajar dari pertandingan itu. Mari kita pahami bahwa dominasi bukan tujuan, kemenangan yang bermakna-lah yang harus dikejar. Demokrasi yang sehat bukan demokrasi yang sekadar menampilkan angka partisipasi, tapi demokrasi yang mampu menghadirkan rasa adil, ruang kritik, dan kepastian bagi setiap warga.
Sepak bola memberi kita cermin, demokrasi memberi kita panggung. Keduanya menuntut hal yang sama: kesungguhan. Maka, biarlah kekecewaan sore itu menjadi cambuk, bukan sekadar keluhan. Biarlah pelajaran dari Laos menjadi pengingat bahwa sekecil apa pun lawan, ia bisa menahan langkah raksasa jika disiplin dan tekun. Dan biarlah demokrasi kita tumbuh bukan hanya dalam janji, tapi dalam karya nyata.
Karena pada akhirnya, bangsa ini tidak hanya butuh pesta dan sorak-sorai. Ia butuh kemenangan yang sejati. Dan kemenangan itu hanya lahir dari demokrasi yang berani menuntaskan janji—seperti tim yang tidak hanya bermain indah, tapi juga berani mencetak gol.



Tinggalkan Balasan