Pemkab Bone telah merilis logo Hari jadi Bone (HJB) yang ke 695 tahun. Logo peringatan 695 tahun HJB bukan sekadar angka yang menandakan usia suatu daerah, tetapi juga merupakan konstruksi simbolik yang sarat makna. Jika kita memperhatikan logo tersebut lebih mandalam, maka salah satu aspek menarik yang penulis lihat dan dapat dikaji adalah kesamaan visual antara angka “695” dengan huruf-huruf “bgs”, yang kemudian dapat dimaknai atau divisualkan sebagai singkatan dari kata bugis, bagus, dan bagas (dalam bahasa Sanskerta). Dari perspektif semiotik, setiap elemen visual dalam logo memiliki potensi untuk mengomunikasikan pesan budaya, sejarah, dan identitas kolektif. Nah, mari kita ulik tiga makna dari pengembangan simbol angka 695 tersebut.
Tinjauan Semiotik: Tanda, Penanda, dan Petanda
Dalam teori semiotik yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure dan Charles Sanders Peirce, tanda terdiri atas dua komponen: penanda (signifier) — bentuk fisik atau visual dari tanda — dan petanda (signified) — konsep atau makna yang dikandung oleh tanda tersebut. Dalam konteks logo 695, dapat dijelaskan dari aspek sebagai Penanda dimana bentuk angka “695” yang digunakan dalam desain logo, sedangan sebagai Petanda, ia sebagai konsep usia Bone, sejarah peradaban Bugis, dan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakatnya. Namun secara bentuk visual, angka 695 juga dapat dimaknai menyerupai huruf-huruf kapital bgs, terutama jika ditata dan dilihat dengan gaya tipografi atau desain tertentu yang mendekatkan bentuk visual angka ke huruf. Kita dapat melihat desain logo hari jadi Bone saat ini yang Ketika dilihat secara mendalam mengarah pada hurf bgs. Ini membuka ruang interpretasi yang lebih kaya.
Angka 695 yang Menyerupai Singkatan ‘bgs’ (Divisualkan menjadi kata Bugis, Bagus, dan Bagas)
Pertama, divisualkan sebagai kata ‘Bugis’. Penafsiran paling langsung dari bgs adalah Bugis, yang merujuk pada identitas etnis masyarakat Bone. Melalui pendekatan semiotik, penyamaran angka menjadi huruf ini bukan kebetulan, melainkan bentuk estetika simbolik yang memperkuat identitas budaya. Ini adalah penegasan bahwa Bone bukan hanya wilayah geografis, tetapi juga pusat peradaban Bugis yang tua dan berakar kuat. Kedua, divisualkan sebagai kata ‘Bagus’. Dalam bahasa Indonesia, kata bagus mengandung makna keindahan, kualitas tinggi, dan nilai estetika. Jika “695” dapat ditafsirkan sebagai “bgs”, maka nilai ini mengarah pada representasi Bone sebagai daerah yang memiliki kebudayaan luhur, etika sosial yang mulia, serta pencapaian pembangunan yang baik. Ketiga, divisualkan sebagai kata ‘Bagas’. Kata Bagas, yang berasal dari bahasa Sanskerta, berarti “kuat”, “sehat”, atau “perkasa”. Dalam kerangka ini, logo 695 (bgs) juga mencerminkan citra Bone sebagai wilayah yang kuat secara sejarah, budaya, dan sosial-politik. Nilai ini merepresentasikan keberlangsungan kekuasaan kerajaan Bone yang pernah menjadi kekuatan besar di Sulawesi Selatan. Ketiga kata ini sejatinya mencerminkan nilai-nilai inti yang terkandung dalam frasa “Ininnawa Bone”, yaitu semangat, karakter, dan moralitas masyarakat Bone.
Dalam konteks semiotik, logo peringatan 695 tahun Bone mengandung kekuatan simbolik sebagai medium reintegrasi — mempertemukan ulang masyarakat Bone dengan nilai-nilai asalnya, sembari mengarahkannya menuju masa depan. Melalui bentuk visual yang bisa dibaca sebagai “bgs”, logo ini tidak hanya menandai waktu, tapi juga merangkum identitas, harapan, dan jiwa kolektif masyarakat Bone yang ingin kembali bersatu dalam madeceng — kemajuan yang berakar pada budaya. Jika meninjau logo 695 tahun Hari Jadi Bone dari sudut ilmu semiotik, kita memahami bahwa logo ini tidak hanya sekadar angka hiasan. Ia adalah narasi visual yang menyimpan jejak sejarah, identitas etnis, dan nilai-nilai filosofis. Tafsir “BGS” sebagai “Bugis, Bagus, dan Bagas” memperkaya dimensi makna yang dapat ditangkap oleh publik — baik secara sadar maupun bawah sadar — menjadikannya simbol yang kuat dan penuh daya.
Pendekatan semiotik juga memungkinkan adanya pembacaan ganda (polysemy) dalam tanda “695” bukan sekadar angka, tapi juga jembatan menuju makna-makna yang lebih dalam — gabungan antara sejarah literal (usia Bone) dan sejarah simbolik (identitas Bugis dan nilai-nilai luhur). Bentuk visual angka yang menyerupai huruf menciptakan ambiguitas yang produktif. Di mana masyarakat bisa menangkap pesan ganda: informasi dan inspirasi. Maka dari itu, logo ini bekerja bukan hanya sebagai identitas acara, tapi juga sebagai medium komunikasi budaya.
Korelasi dengan Tema “Mappasitemmu Ininnawa Bone Ri Madecenge”
Jika dihubungkan dengan tema Hari Jadi Bone yang ke 695, yaitu “Mappasitemmu Ininnawa Bone Ri Madecenge” yang secara umum bermakna “Mempertemukan kembali semangat (jiwa) orang Bone dalam kemajuan atau kebaikan.” Frasa ini adalah ajakan untuk “mempertemukan kembali jiwa Bone dalam kebaikan atau kemajuan”. Dalam konteks ini, logo dan penafsiran semiotiknya ikut berperan sebagai bentuk komunikasi simbolik untuk membangkitkan, yakni Pertama, Jiwa Bugis (bgs–Bugis): Mengingatkan masyarakat Bone akan akar budaya Bugis yang luhur, pemberani, dan menjunjung tinggi siri’ (harga diri). Kedua, Semangat untuk Menjadi Lebih Bagus (bgs – Bagus): Simbol transformasi menuju perbaikan, modernisasi, dan kemajuan yang tetap berbasis budaya, dan Ketiga Kekuatan Mental dan Sosial (bgs – Bagas): Cerminan dari daya tahan orang Bone dalam menghadapi tantangan zaman dengan tetap menjaga nilai-nilai lokal.
Dengan demikian, logo 695 bukan hanya sebatas angka, melainkan penyatu identitas dan cita-cita, selaras dengan semangat tema “Mappasitemmu Ininnawa”, yakni menghidupkan kembali nilai-nilai luhur masyarakat Bone dalam menghadapi zaman modern (Ri Madecenge). Kita memiliki harapan besar, Bone akan menjadi lebih baik (Madeceng) dibawah komando Bupati Bone, Andi Asman Sulaiman dan Wakil Bupati Bone, Andi Akmal Pasluddin, yang mengusung tagline ber-Amal dalam pemerintahannya. (*)