BONE – Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Bone, H. A. Akbar, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa progres pembangunan dan rehabilitasi sejumlah fasilitas olahraga di Stadion Lapatau Matannatikka Bone telah mencapai sekitar 60 persen. Pemerintah daerah terus melakukan pemantauan dan pembenahan guna memastikan kesiapan venue menjelang pelaksanaan ajang olahraga mendatang.
Hal tersebut disampaikan H. A. Akbar saat melakukan pemantauan langsung di Stadion Lapatau Matannatikka Bone. Menurutnya, sejumlah pekerjaan yang tengah berlangsung meliputi penanaman rumput lapangan serta rehabilitasi tribun barat dan timur stadion.
“Alhamdulillah, sekarang sudah mencapai realisasi kurang lebih 60 persen, baik itu penanaman rumputnya maupun rehabilitasi tribun barat dan timur,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, secara umum kesiapan venue olahraga di Kabupaten Bone hampir rampung. Namun, masih terdapat satu atau dua venue yang berpotensi tidak dapat digunakan, salah satunya venue Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) untuk cabang olahraga panjat tebing atau panjat dinding.
Menurut Akbar, kendala utama pada venue panjat tebing terletak pada belum lengkapnya sejumlah peralatan, khususnya papan penyangga untuk nomor speed. Meskipun struktur besinya telah tersedia, ketiadaan papan tersebut membuat venue belum memenuhi persyaratan untuk digunakan dalam pertandingan. “Kalau sekiranya hari ini sampai dengan 15 hari ke depan tidak dikerjakan, maka panjat tebing tidak bisa digunakan untuk lomba,” jelasnya.
Ia menambahkan, berdasarkan hasil koordinasi dengan pihak provinsi, venue panjat tebing tidak dapat digunakan apabila kelengkapan peralatan tersebut belum terpenuhi. Sementara itu, kebutuhan anggaran untuk melengkapi fasilitas tersebut diperkirakan mencapai Rp400 juta hingga Rp1 miliar.
Akbar menyebutkan, terdapat opsi untuk mendatangkan atau memindahkan peralatan dari daerah lain, seperti Sidoarjo atau Makassar. Namun, upaya tersebut juga memerlukan biaya tambahan, mulai dari pengangkutan hingga pemasangan peralatan. “Hal ini tergantung dari pengurus provinsi, apakah nantinya alat digeser, dipindahkan, atau ada peralatan yang didatangkan. Karena biaya pemasangan dan pengangkutannya juga cukup besar,” ujarnya.
Meski demikian, ia memastikan sejumlah venue lainnya dapat digunakan setelah dilakukan penyempurnaan. Di antaranya gedung olahraga (GOR), venue menembak, serta lapangan voli pasir.
Khusus untuk lapangan voli pasir, pembenahan yang diperlukan relatif sederhana, yakni penggantian dan penambahan pasir. Akbar memperkirakan kebutuhan pasir mencapai sekitar 20 hingga 25 truk.
Dengan waktu persiapan yang tersisa sekitar setengah bulan, Dispora Bone akan terus melakukan perbaikan terhadap fasilitas yang masih membutuhkan penyempurnaan. Ia optimistis tingkat kesiapan venue secara keseluruhan dapat mencapai 100 persen pada akhir Oktober.
“Insyaallah kesiapan kita akan mencapai 100 persen di akhir bulan Oktober,” tutup Akbar.
Pemerintah Kabupaten Bone diharapkan dapat memaksimalkan waktu yang tersisa agar seluruh fasilitas olahraga siap digunakan, sekaligus mencari solusi atas kendala teknis dan anggaran yang masih dihadapi pada venue panjat tebing. (*)


Tinggalkan Balasan