BONE — Ribuan masyarakat memadati Lapangan Merdeka Kabupaten Bone untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah/2026 Masehi. Di tengah suasana peringatan yang sarat nuansa religius itu, tumpukan male—telur hias khas tradisi Maulid menjadi salah satu pemandangan yang mencuri perhatian.
Pemerintah Kabupaten Bone sengaja memilih Lapangan Merdeka sebagai lokasi pelaksanaan Maulid tahun ini. Bagi Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., MM, peringatan Maulid bukan sekadar agenda tahunan atau seremoni pemerintahan, melainkan momentum untuk kembali mengingat perjalanan perjuangan Rasulullah SAW sekaligus melakukan refleksi terhadap kehidupan sehari-hari.
“Kita laksanakan di Lapangan Merdeka. Sengaja kita laksanakan momentum ini sebagai wujud kegiatan untuk sama-sama mengenang perjalanan perjuangan agama Islam, perjuangan Nabi kita yang harus kita ikuti dan menjadi panutan,” kata Andi Asman.
Menurutnya, Maulid harus meninggalkan sesuatu yang lebih bermakna setelah kegiatan berakhir. Masyarakat yang datang membawa male diharapkan tidak hanya membawa pulang kembali tradisi tersebut, tetapi juga membawa pulang hikmah dari ceramah dan pesan keagamaan yang disampaikan.
Peringatan Maulid tersebut diisi dengan ceramah oleh Rektor IAIN Bone Prof. Dr. Lukman Arake. Bupati berharap pesan yang disampaikan dapat menjadi bekal bagi masyarakat, aparatur sipil negara, maupun seluruh pihak yang hadir untuk memperbaiki diri dan menerapkan keteladanan Rasulullah SAW dalam kehidupan.
“Jadi male-nya tadi itu kita distribusi kepada saudara kita, kolega kita yang masih membutuhkan,” ujarnya.
Di balik kemeriahan Maulid, Andi Asman juga menyoroti kehadiran para pekerja yang selama ini berada di balik kebersihan Kabupaten Bone. Sopir truk sampah, operator kendaraan roda tiga, hingga satuan tugas kebersihan turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Mereka, kata Bupati, merupakan bagian penting dari upaya menjaga wajah Bone tetap bersih.
“Di sini hadir ada sopir truk sampah, ada sopir-sopir, ada operator motor tiga roda, ada satgas kebersihan yang membersihkan setiap hari, sehingga Bone ini menjadi Bone terbersih di Indonesia,” katanya.
25 Ribu Male dan Ekspresi Kecintaan kepada Nabi
Antusiasme masyarakat terlihat dari jumlah male yang terkumpul. Andi Asman menyebut, hingga sekitar pukul 13.00 Wita, jumlah male yang terkumpul mencapai kurang lebih 25 ribu.
Sebagian male tersebut kemudian dibagikan kepada masyarakat. Bahkan, menurut Bupati, banyak yang langsung habis karena tingginya antusiasme warga.
Bagi Andi Asman, banyaknya male yang dibawa merupakan salah satu bentuk kegembiraan dan kecintaan terhadap Nabi Muhammad SAW yang terus dipelihara melalui tradisi Maulid.
“Setiap tahun kita melakukan perayaan atau memperingati hari lahirnya Nabi, sekaligus kita melihat ada beberapa tanda kecintaan kita yang tidak pernah kita lupakan,” tuturnya.
Ia mengapresiasi antusiasme masyarakat Bone yang menurutnya sangat tinggi dalam mengikuti peringatan tersebut.
Namun, di balik kemeriahan itu, Bupati mengingatkan agar esensi Maulid tidak berhenti pada banyaknya male, keramaian, maupun seremoni.
“Semoga peringatan ini yang kita laksanakan bukan sebagai seremonial. Bagi saudara-saudaraku yang sudah membawa male mulai dari dusun, desa, nanti kembali membawa hikmah,” katanya.
Menjadikan Maulid sebagai Cermin Diri
Bagi Bupati Bone, inti peringatan Maulid adalah introspeksi. Setiap tahun, masyarakat kembali diajak bercermin: sudah sejauh mana perilaku dan kehidupan sehari-hari mengikuti keteladanan Rasulullah SAW?
Ia mengajak masyarakat untuk membiasakan membaca dan mengulang kembali ayat-ayat Al-Qur’an serta mempelajari perjalanan hidup Rasulullah SAW.
“Minimal mencapai kesempurnaannya. Kalau paripurna itu mungkin kita punya kemampuan yang sangat terbatas, tetapi upaya yang harus kita lakukan,” ujarnya.
Pesan tersebut juga ditujukan kepada para pejabat dan aparatur pemerintahan. Menurut Andi Asman, keteladanan Rasulullah harus tercermin dalam pelaksanaan tugas, baik dalam keluarga maupun dalam pekerjaan.
Sebab, seorang pejabat maupun aparatur dituntut mampu menjaga dirinya, keluarganya, sekaligus amanah pekerjaan dan instansi yang dipimpinnya.
Ia bahkan menggambarkan kualitas perilaku manusia dengan perbandingan antara sisi baik dan buruk. Menurutnya, manusia tentu memiliki kekurangan, tetapi kebaikan harus jauh lebih dominan.
“Kalau manusiawi itu mungkin 80 persen, 20 persen buruk karena manusiawi, pasti ada salahnya. Tapi kalau 50 persen, mulai sudah pikirannya tidak bagus,” katanya.
Sebaliknya, jika sisi buruk lebih dominan, seseorang akan sulit menjalani kehidupan dengan tenang. Karena itu, menurutnya, peringatan Maulid harus menjadi pengingat agar manusia kembali ke jalan yang benar ketika mulai menyimpang.
“Kalau miring-miring sedikit, kembali lagi. Makanya setiap tahun kita diminta untuk merayakan agar menjadi introspeksi diri apakah sudah benar atau tidak,” ujarnya.
Dari Masjid, Kantor hingga Keluarga
Andi Asman juga menyampaikan harapannya agar nilai-nilai Islam tidak hanya diterapkan dalam kehidupan pribadi dan keluarga, tetapi juga dalam tata kelola pemerintahan.
Ia menyinggung gagasan mengenai birokrasi yang berlandaskan prinsip-prinsip syariah, sebagaimana sistem perbankan syariah yang telah berkembang.
“Kalau ada bank syariah, birokrasi syariah juga ada,” katanya.
Ia berharap, ke depan, tata kelola pemerintahan dapat semakin baik sehingga integritas, kejujuran, dan rasa saling menjaga menjadi budaya yang melekat dalam kehidupan birokrasi.
Pada akhirnya, Andi Asman mengingatkan bahwa keluarga merupakan lingkungan pendidikan dan pembentukan karakter yang paling mendasar. Karena itu, hikmah Maulid yang diperoleh dari Lapangan Merdeka harus dibawa kembali ke rumah.
“Male yang dibawa, hikmahnya dibawa pulang kembali ke rumah untuk bisa dijadikan pembelajaran, bisa dijadikan sebagai ilmu untuk diterapkan di keluarga,” katanya.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H/2026 M di Bone pun tidak hanya menjadi peristiwa yang dipenuhi ribuan male. Lebih dari itu, ia menjadi ruang untuk mempertemukan tradisi, silaturahmi, dakwah, dan refleksi—agar kecintaan kepada Rasulullah SAW tidak berhenti pada perayaan, tetapi hadir dalam perilaku sehari-hari.
Sebab, sebagaimana pesan Bupati Bone, Maulid pada akhirnya bukan tentang seberapa meriah perayaannya, melainkan seberapa jauh keteladanan Nabi Muhammad SAW mampu dibawa pulang dan diterapkan dalam keluarga, pekerjaan, pemerintahan, dan kehidupan bermasyarakat. (*)


Tinggalkan Balasan