MAKASSAR — Kabupaten Bone bersiap menapaki babak baru dalam pengembangan sektor peternakan. Daerah yang selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung pangan di Sulawesi Selatan itu kini diproyeksikan menjadi pusat pengembangan sapi perah di kawasan timur Indonesia.

Harapan itu mengemuka dalam Diskusi Ekosistem Hilirisasi Ayam Terintegrasi yang berlangsung di Hotel Four Points Makassar, Kamis (28/5/2026), yang turut dihadiri Bupati Bone, Andi Asman Sulaiman.

Di tengah pembahasan mengenai hilirisasi sektor peternakan, Bone disebut akan menerima bantuan sebanyak 600 ekor sapi perah dengan nilai mencapai Rp150 miliar. Program tersebut dipandang bukan sekadar bantuan ternak, melainkan langkah awal membangun ekosistem peternakan modern yang berkelanjutan di daerah.

Bagi masyarakat Bone, kabar ini membawa optimisme baru. Selama ini, kebutuhan susu di Sulawesi Selatan masih banyak dipasok dari luar daerah. Kehadiran peternakan sapi perah dalam skala besar diharapkan mampu memperkuat ketersediaan susu, terutama untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak.

“Kami diminta kesiapan sebagai kabupaten yang siap menerima pengembangan peternakan sapi perah untuk kebutuhan susu putra-putri kita. Tentu kami sangat siap menyambut dan menerima bersama masyarakat,” ujar Andi Asman.

Menurutnya, pengembangan ratusan sapi perah itu membutuhkan dukungan lahan pakan sekitar 60 hektare. Lahan tersebut nantinya akan dikelola bersama para petani lokal sebagai bagian dari kerja sama terpadu antara sektor peternakan dan pertanian.

Skema itu dinilai dapat menghadirkan dampak ekonomi yang luas. Tidak hanya peternak yang terlibat, tetapi juga petani pakan ternak, pelaku distribusi, hingga tenaga kerja di sektor pengolahan hasil susu.

Di tengah tantangan ekonomi dan kebutuhan lapangan kerja di daerah, program ini dinilai membuka peluang baru bagi masyarakat Bone, terutama generasi muda di sektor agribisnis modern.

“Harapannya tentu bisa membuka lapangan kerja, mulai dari tenaga kerja tingkat rendah hingga tenaga kerja dengan keahlian tinggi,” katanya.

Lebih jauh, pengembangan sapi perah ini diproyeksikan menjadi bagian dari penguatan hilirisasi peternakan di Kabupaten Bone. Jika berjalan sesuai rencana, Bone bukan hanya menjadi daerah penghasil ternak, tetapi juga pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis agribisnis dan peternakan terpadu di Sulawesi Selatan.

Di balik angka 600 ekor sapi perah dan investasi ratusan miliar rupiah itu, tersimpan harapan besar: menghadirkan kesejahteraan baru bagi masyarakat desa, memperkuat ketahanan pangan, serta memastikan anak-anak di daerah mendapatkan akses gizi yang lebih baik di masa depan. (*)