BONE– Di kawasan pendidikan Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone mendadak berubah muram pada Jumat pagi, 1 Mei 2026. Di tengah aktivitas akademik yang biasanya berjalan tertib, kabar duka datang dari salah satu taruna. AF (20), mahasiswa tingkat dua, ditemukan meninggal dunia di lingkungan kampus yang berlokasi di Kelurahan Waetuo.
Peristiwa ini pertama kali terungkap setelah adanya laporan warga yang mencurigai kondisi di sekitar lokasi. Aparat kepolisian dari Polres Bone segera merespons cepat. Garis polisi dipasang, dan olah tempat kejadian perkara (TKP) pun dilakukan untuk mengumpulkan petunjuk awal.
Dugaan sementara mengarah pada kasus gantung diri. Namun, di balik kesimpulan awal itu, aparat penegak hukum masih berhati-hati dalam memastikan penyebab pasti kematian. Kasat Reskrim Polres Bone, AKP Alvin Aji Kurniawan, menegaskan bahwa penyelidikan masih berlangsung.
“Pada hari ini, kami menerima informasi terkait penemuan jenazah yang diduga gantung diri. Anggota telah melakukan olah TKP dan jenazah sudah dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan visum,” ujarnya.
Lebih jauh, pihak kepolisian juga menelusuri barang pribadi korban, termasuk telepon genggam. Dari hasil pemeriksaan awal, ditemukan sejumlah percakapan yang berkaitan dengan hubungan pribadi korban. Meski demikian, hal itu belum cukup untuk menarik kesimpulan mengenai motif di balik kejadian tragis tersebut.
“Untuk pendalaman, kami juga memeriksa handphone pribadi korban. Dari situ ditemukan beberapa percakapan yang berkaitan dengan pacarnya. Namun hingga saat ini kami belum dapat menyimpulkan motif dari peristiwa ini,” lanjutnya.
Di sisi lain, keluarga korban telah berada di Bone dan turut menyaksikan proses penanganan kasus ini. Koordinasi antara pihak keluarga dan kepolisian masih berlangsung, terutama terkait kemungkinan dilakukannya autopsi untuk memastikan penyebab kematian secara ilmiah dan menyeluruh.
“Jenazah sudah divisum dan keluarga korban sudah datang. Kami masih berkoordinasi apakah pihak keluarga menginginkan dilakukan autopsi atau tidak,” tambah AKP Alvin.
Peristiwa ini menyisakan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi lingkungan kampus dan rekan-rekan korban. Di balik disiplin dan kerasnya pendidikan taruna, tragedi ini menjadi pengingat bahwa setiap individu memiliki sisi rapuh yang tak selalu terlihat.
Hingga kini, aparat kepolisian masih terus bekerja mengumpulkan fakta demi fakta, berharap dapat mengungkap secara terang penyebab di balik kepergian seorang taruna muda yang seharusnya masih memiliki masa depan panjang. (*)


Tinggalkan Balasan