BONE — Di sudut Kecamatan Barebbo, tepatnya di Desa Lampoko, tumbuh sebuah kisah tentang konsistensi dan pengabdian. Desa yang dulu dikenal sebagai wilayah agraris biasa, kini menjelma menjadi desa percontohan pengembangan hortikultura yang dijuluki masyarakat sebagai “Desa Istana Sayur”.
Transformasi ini tak lepas dari sentuhan dan perhatian Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., MM, yang sejak masih menjabat sebagai camat di Barebbo telah menjadikan Lampoko sebagai desa binaan. Komitmen itu terus berlanjut saat ia dipercaya memimpin dinas strategis, hingga kini sebagai Bupati Bone.
Sejak awal, Lampoko diproyeksikan sebagai laboratorium lapangan pengembangan tanaman sayur-mayur. Beragam komoditas hortikultura tumbuh subur di lahan warga, mulai dari cabai, tomat, kacang panjang, terong, hingga aneka sayuran lainnya. Perlahan tapi pasti, desa ini berkembang menjadi model file project pengembangan tanaman sayur di Kabupaten Bone.
“Banyak kesan yang saya rasakan selama bertugas di Barebbo. Lampoko selalu menjadi tempat rujukan dalam pengembangan tanaman sayur-mayur, baik saat saya menjadi camat, maupun ketika menjabat di Dinas Ketahanan Pangan dan Dinas Pertanian,” ungkap H. Andi Asman Sulaiman.
Ia menambahkan, inovasi pertanian yang dikembangkan di desa tersebut, termasuk program “Layar Hatiku”, bahkan sukses mengantarkannya meraih penghargaan tingkat nasional dari Kementerian Pertanian RI. Penghargaan itu menjadi bukti bahwa pendekatan pemberdayaan berbasis desa mampu memberi dampak nyata.
Kini, Desa Lampoko tak hanya menjadi sentra produksi, tetapi juga pusat penyediaan bibit hortikultura. Melalui Grand House Mandiri Sejati Lampoko, masyarakat dapat memperoleh bibit cabai, terong, dan tomat secara gratis. Program ini terbuka bagi rumah tangga, sekolah, hingga perkantoran yang ingin memanfaatkan pekarangan sebagai lahan produktif.
“Silakan merapat. Bibit kami siapkan gratis untuk ditanam di halaman rumah, sekolah, maupun kantor. Kita ingin gerakan menanam ini menjadi budaya,” ajak Bupati.
Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan keluarga dan mendorong pemanfaatan lahan pekarangan secara optimal. Dengan gerakan kolektif, Lampoko bukan hanya menjadi desa penghasil sayur, tetapi juga simbol kemandirian pangan berbasis masyarakat.
Di bawah kepemimpinan H. Andi Asman Sulaiman, Desa Lampoko membuktikan bahwa perubahan besar bisa berawal dari desa. Dari Barebbo untuk Bone, semangat “Istana Sayur” terus tumbuh, menanam harapan di setiap pekarangan. (*)



Tinggalkan Balasan