BONE– Senin pagi, 2 Maret 2026, di Kelurahan Mattirowalie, Kecamatan Tanete Riattang Barat, masih menyisakan bau hangus yang pekat. Puing-puing rumah yang rata dengan tanah menjadi saksi bisu musibah kebakaran yang menghanguskan kediaman Bapak Rahmat. Di antara abu dan arang, keluarga itu hanya bisa berdiri memandangi sisa-sisa kehidupan yang tak sempat terselamatkan.

Namun di tengah duka, harapan perlahan datang.

Pimpinan BAZNAS Kabupaten Bone, H. Muhaimin Ali, Lc dan Rusmin Igho, SH, didampingi Camat Tanete Riattang Barat Muh. Amin, bersama jajaran Palang Merah Indonesia (PMI) Kecamatan Tanete Riattang Barat, hadir langsung di lokasi kebakaran. Kehadiran mereka bukan sekadar kunjungan formalitas, tetapi wujud nyata kepedulian dan respons cepat terhadap warga yang tertimpa musibah.

Rumah milik Bapak Rahmat hangus dilalap si jago merah. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun, kerugian material ditaksir cukup besar. Seluruh harta benda tak sempat diselamatkan, menyisakan pakaian di badan dan kenangan yang kini tinggal puing.

Di hadapan keluarga korban, BAZNAS Bone menyalurkan bantuan berupa paket sembako, bantuan tunai, serta peralatan memasak. Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar keluarga Rahmat pada masa-masa awal pascakebakaran—masa paling sulit ketika semua harus dimulai dari nol.

H. Muhaimin Ali, Lc menegaskan bahwa bantuan yang disalurkan merupakan amanah dari para muzakki yang telah mempercayakan zakat, infak, dan sedekahnya kepada BAZNAS.

“Kami berharap bantuan ini dapat sedikit meringankan beban Bapak Rahmat dan keluarga, serta menjadi penyemangat di tengah musibah yang terjadi,” ujarnya dengan penuh empati.

Camat Muh. Amin turut menyampaikan rasa prihatin mendalam atas musibah tersebut. Ia mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, terutama yang disebabkan oleh korsleting listrik maupun kelalaian penggunaan peralatan rumah tangga. Menurutnya, musibah bisa datang tanpa diduga, namun ikhtiar pencegahan tetap harus menjadi perhatian bersama.

Sementara itu, keluarga korban tak kuasa menahan haru. Di tengah kehilangan yang begitu besar, perhatian dan bantuan dari berbagai pihak menjadi penguat hati. Ucapan terima kasih disampaikan kepada BAZNAS, pemerintah kecamatan, dan PMI yang telah hadir cepat memberikan dukungan moral dan material.

Musibah memang tak pernah diundang. Namun, dari peristiwa di Mattirowalie ini, terlihat jelas bahwa solidaritas sosial masih hidup dan tumbuh di tengah masyarakat. Sinergi antara BAZNAS, pemerintah kecamatan, dan PMI menjadi contoh nyata bahwa ketika satu warga tertimpa bencana, yang lain hadir untuk menguatkan.

Di antara sisa-sisa kebakaran itu, bukan hanya rumah yang akan dibangun kembali—tetapi juga harapan. (*)