BONE– Kemeriahan menyelimuti halaman Sekolah Islam Athirah Bone, Rabu, 11 Februari 2026. Sorak sorai peserta, tepuk tangan para pendamping, serta iringan pembukaan yang penuh semangat menandai dimulainya Athirah Olympic Vol. 14. Namun ada yang berbeda tahun ini—empat orang pembawa acara (MC) tampil memandu kegiatan secara kolaboratif, mewakili tiga jenjang pendidikan sekaligus: SD, SMP, dan SMA. Mereka bergantian menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, menghadirkan suasana yang energik sekaligus berkelas.

Mengusung tema “Empower Your Potential, Be The Next Champion,” ajang tahunan ini mencatat partisipasi luar biasa, yakni 1.032 siswa. Tidak hanya berasal dari Kabupaten Bone, peserta juga datang dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan hingga Sulawesi Barat, seperti Palopo dan Majene. Kehadiran mereka menjadikan Athirah Olympic sebagai ruang pertemuan talenta muda lintas daerah.

Selama empat hari pelaksanaan hingga 14 Februari 2026, sekolah ini berubah menjadi arena kompetisi yang sarat semangat sportivitas dan prestasi. Perhelatan ini semakin semarak dengan dukungan jejaring kemitraan yang kuat—sebanyak 42 sponsor turut berkontribusi menyukseskan kegiatan.

Ketua Panitia Athirah Olympic Vol. 14, Sugiratu Pahlevi, dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan tradisi prestasi yang konsisten digelar sejak 2012.

“Event ini diharapkan dapat terus berperan sebagai ruang pengembangan potensi dan prestasi bagi seluruh siswa,” ujarnya penuh optimisme.

Secara resmi, kegiatan dibuka oleh Wakil Direktur Sekolah Islam Athirah Bone, Syamsul Bahri, S.Pd.I., Gr., M.Pd. Dalam sambutannya, lulusan magister IAIN Bone tersebut menegaskan bahwa Athirah Olympic bukan hanya tentang kompetisi, melainkan juga tentang lita’arofu—ruang silaturahmi untuk saling mengenal, berbagi pengalaman, dan bertumbuh bersama.

Ia juga menyinggung tantangan pendidikan global. Berdasarkan hasil PISA, Indonesia masih menghadapi ketertinggalan dalam sejumlah aspek kompetensi dasar. Menjawab tantangan itu, Syamsul Bahri memberikan analogi yang kuat dan membekas.

“Siswa ibarat emas. Jika tidak ditempa dengan proses yang keras melalui kompetisi dan belajar, maka ia akan tetap menjadi potensi mentah yang terkubur di dalam tanah,” tegasnya.

Pesan tersebut menjadi motivasi bagi para peserta untuk tidak takut berproses dan berkompetisi. Di sinilah karakter dan kualitas diri ditempa.

Apresiasi khusus juga disampaikan kepada pengurus OSIS SMP dan SMA Athirah yang dipercaya menjadi panitia pelaksana. Keterlibatan aktif mereka menunjukkan komitmen sekolah dalam membangun jiwa kepemimpinan, tanggung jawab, dan manajemen kegiatan sejak dini.

Adapun cabang lomba yang dipertandingkan cukup beragam. Untuk tingkat SD, terdapat AoC, Tahfidz, dan Futsal. Sementara tingkat SMP melombakan AoC, Tahfidz, Futsal, Pickleball, Video Kreatif, serta Debat. Seluruh rangkaian lomba dirancang untuk mengasah kemampuan akademik, keagamaan, olahraga, hingga kreativitas digital siswa.

Athirah Olympic Vol. 14 bukan hanya panggung kompetisi, melainkan juga ruang tumbuh bagi generasi muda. Di tengah gemuruh semangat juang dan persaudaraan, satu pesan menggema jelas: setiap anak memiliki potensi untuk menjadi juara asal berani ditempa dan terus berkembang. (*)