BONE– Di Lingkungan Lona Rilau, Kelurahan Toro, Kecamatan Tanete Riattang Timur, Kabupaten Bone, terdapat sebuah lokasi yang menyimpan jejak penting sejarah Bone. Warga setempat mengenalnya dengan sebutan Bentenge. Sebuah situs yang diyakini sebagai benteng pertahanan Petta Ponggawae pada masa pertempuran besar yang dikenal dalam sejarah sebagai Rumpana Bone.

Namun ironisnya, seiring waktu berlalu, nilai sejarah yang melekat pada Bentenge perlahan memudar. Lokasi yang seharusnya menjadi ruang edukasi budaya justru berubah fungsi menjadi tempat pembuangan sampah oleh sebagian warga. Kondisi ini menimbulkan keprihatinan mendalam, terutama bagi masyarakat yang masih mengingat peran penting Bentenge dalam perjalanan sejarah Bone.

Salah satunya adalah Hamzah, warga setempat yang juga merupakan purna bakti Kepala SMAN 13 Bone. Dengan nada lirih namun penuh harap, ia mengaku sedih melihat situs bersejarah itu tak lagi terawat.

“Padahal lokasi ini dulu adalah benteng pertahanan Raja Bone, Petta Ponggawae, dalam peristiwa Rumpana Bone. Nilai sejarahnya masih sangat kuat dan masih dikenang oleh warga tua di sini,” ungkap Hamzah.

Berangkat dari rasa tanggung jawab sebagai warga, Hamzah tak tinggal diam. Langkah kecil namun nyata mulai ia lakukan dengan melakukan edukasi kepada masyarakat sekitar agar tidak lagi menjadikan Bentenge sebagai tempat pembuangan sampah. Ia juga membangun komunikasi dengan keluarga, tokoh masyarakat, dan pihak-pihak terkait agar muncul kesadaran bersama untuk melestarikan situs tersebut.

Menurutnya, Bentenge sangat potensial untuk dikembangkan menjadi ruang publik bernuansa budaya. Bahkan, secara geografis, lokasi ini dinilai representatif untuk dijadikan pusat kegiatan olahraga masyarakat, seperti lapangan voli dan aktivitas lainnya, tanpa menghilangkan nilai historisnya.

“Kalau perlu, lokasi ini dijadikan tempat budaya agar masyarakat paham bahwa di sini pernah berdiri benteng pertahanan bersejarah. Kami juga berencana membuat bak sampah khusus supaya warga tidak lagi membuang sampah sembarangan,” tambahnya.

Meski demikian, Hamzah menyadari keterbatasan warga dalam melakukan pembenahan secara menyeluruh. Oleh karena itu, ia berharap adanya perhatian dan dukungan nyata dari pemerintah daerah agar Bentenge dapat ditata dan dilestarikan dengan baik.

Harapan warga Lona Rilau sederhana: Bentenge tak lagi menjadi simbol kelalaian, melainkan kembali hidup sebagai ruang edukasi sejarah, budaya, dan kebersamaan. Sebuah pengingat bahwa jejak masa lalu Bone layak dirawat, bukan dilupakan. (*)