BONE– Di tengah hiruk-pikuk arus mudik menjelang Hari Raya Idulfitri, sebuah suasana teduh justru terasa di Masjid Nurul Yaqin Lappawala. Masjid yang terletak di Jalan Poros Makassar–Bone, Desa Sappewalie, Kecamatan Ulaweng ini menjadi persinggahan yang menenangkan bagi para pemudik yang melintasi jalur tersebut.
Selasa, 17 Maret 2026, Camat Ulaweng, A. M. Aryananda turun langsung memantau kesiapan masjid yang kini dikenal sebagai “masjid ramah mudik”. Dalam kunjungannya, ia didampingi oleh H. Muhammad Saleh serta Kepala Desa Sappewalie, A. Taslim.
Di sela pemantauan, Aryananda mengungkapkan rasa syukur atas hadirnya program dari Kementerian Agama Republik Indonesia yang mendorong masjid menjadi lebih ramah bagi para pemudik. Menurutnya, keberadaan fasilitas ini sangat membantu para musafir untuk beristirahat dengan layak di tengah perjalanan panjang.
“Kami pemerintah Kecamatan Ulaweng sangat bersyukur dengan adanya program ini. Ini sangat membantu para pemudik untuk beristirahat. Kami juga mengimbau agar kebersihan tetap dijaga, supaya para pemudik semakin nyaman singgah di masjid ini,” ujarnya.
Masjid Nurul Yaqin bukan sekadar tempat ibadah. Ia telah menjelma menjadi ruang singgah yang menghadirkan kenyamanan. Di dalamnya tersedia area istirahat yang teduh, memungkinkan para pemudik melepas lelah sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
Salah satu daya tarik utama masjid ini adalah ketersediaan air bersih yang bersumber langsung dari mata air pegunungan. Air yang jernih dan segar itu dimanfaatkan para musafir untuk berwudu, mandi, hingga mengisi ulang bekal air minum mereka. Bagi para pemudik yang menempuh perjalanan jauh, kesegaran air ini menjadi pelepas dahaga sekaligus pemulih tenaga.
Tak hanya itu, perhatian terhadap kebutuhan pemudik juga terlihat dari penyediaan obat-obatan sederhana secara gratis. Fasilitas ini merupakan hasil kerja sama antara pengurus masjid dan Puskesmas Ulaweng, sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan para pengguna jalan.
Di tengah padatnya lalu lintas mudik, Masjid Nurul Yaqin Lappawala hadir sebagai oase—tempat di mana lelah sejenak reda, dan perjalanan kembali dilanjutkan dengan semangat baru. Sebuah potret sederhana tentang bagaimana rumah ibadah bisa menjadi ruang kemanusiaan yang hangat bagi siapa saja yang singgah. (*)



Tinggalkan Balasan