BONE– Di tengah hamparan hijau perbukitan Kecamatan Ponre, langkah kecil menuju masa depan besar itu dimulai. Selasa pagi, 31 Maret 2026, Desa Mappesangka menjadi saksi lahirnya sebuah ikhtiar bersama: menghadirkan generasi Bone yang lebih sehat, cerdas, dan berdaya saing.

Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, meresmikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang diharapkan menjadi simpul penting dalam menjawab tantangan pemenuhan gizi masyarakat, khususnya bagi anak-anak usia sekolah.

Peresmian itu tidak sekadar seremoni. Ia menjadi titik temu kolaborasi lintas sektor—dari pemerintah daerah, dunia usaha, hingga masyarakat. Hadir mendampingi, Ketua TP PKK Bone Hj. Maryam Andi Asman, Penanggung Jawab SPPG Yayasan Pelangi Timur Mandiri Sejati A. Nurlia Sulaiman, serta hadir perwakilan Pupuk Indonesia wilayah Sulawesi, Wisnu Ramadhani. Turut pula jajaran kepala OPD, Tripika Kecamatan Ponre, para kepala desa, kepala UPT, serta tokoh agama dan masyarakat.

Dalam suasana yang hangat dan penuh makna—ditambah fakta bahwa Mappesangka adalah kampung halamannya—Bupati Andi Asman menyampaikan apresiasi mendalam atas gotong royong yang terbangun.

“Pada prinsipnya saya sangat berterima kasih atas kerja baik semua pihak sehingga kegiatan ini bisa terselenggara dengan baik, apalagi wilayah ini merupakan kampung halaman saya,” ungkapnya dengan nada haru.

Lebih dari sekadar fasilitas, SPPG hadir sebagai jawaban atas kebutuhan mendasar: gizi yang cukup untuk menunjang tumbuh kembang anak. Bupati menegaskan bahwa program makan bergizi gratis yang dijalankan melalui SPPG harus mampu memberi dampak nyata terhadap peningkatan kualitas pendidikan.

Baginya, hubungan antara gizi dan pendidikan adalah sesuatu yang tidak terpisahkan. Anak yang sehat adalah anak yang siap belajar, dan dari sanalah masa depan daerah ditentukan.

“Karena ini program Presiden, tentu kita harus bersama-sama menjaga kualitas menu agar sesuai standar yang ditetapkan melalui Badan Gizi Nasional,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menjadi penekanan penting bahwa keberhasilan program ini tidak hanya terletak pada keberadaannya, tetapi juga pada kualitas pelaksanaannya—mulai dari pemilihan bahan pangan hingga penyajian menu yang memenuhi standar gizi.

Di Desa Mappesangka, SPPG kini berdiri sebagai simbol harapan. Harapan bahwa tidak ada lagi anak yang belajar dalam kondisi lapar. Harapan bahwa pendidikan tidak lagi terhambat oleh persoalan gizi. Dan harapan bahwa dari desa, lahir generasi Bone yang lebih kuat, lebih sehat, dan siap bersaing di masa depan.

Langkah ini mungkin terlihat sederhana, namun di baliknya tersimpan visi besar: membangun manusia Bone dari fondasi paling dasar—gizi yang terpenuhi dengan baik. (*)