BONE–Dalam momentum Sidang Senat Terbuka Wisuda Pascasarjana dan Sarjana Universitas Andi Sudirman, sejarah baru dicatat melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Universitas Andi Sudirman dengan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Provinsi Sulawesi Selatan Selasa, 14 Januari 2025. MoU ini ditandatangani oleh Dekan Fakultas Sains dan Kesehatan, Sumarni, SKM., M.Kes, dan Ketua IBI Sulsel, Dr. Mardiana Ahmad, S.SiT, M.Keb, disaksikan Rektor Universitas Andi Sudirman Dr. H. M. Yasin, MH dengan komitmen memperkuat pendidikan, penelitian, dan layanan kesehatan masyarakat, khususnya dalam pencegahan stunting.

Acara tersebut semakin istimewa dengan orasi ilmiah yang dibawakan oleh Dr. Mardiana Ahmad, bertajuk “Praktik Inisiasi Menyusu Dini (IMD) sebagai Pencegahan Stunting dan Pembentukan Karakter Bangsa.” Dalam pemaparannya, Dr. Mardiana menekankan pentingnya Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan pemberian ASI eksklusif sebagai upaya fundamental untuk meningkatkan kesehatan generasi mendatang.

Menurut Dr. Mardiana, IMD dilakukan dalam satu jam pertama setelah kelahiran, saat refleks hisap bayi berada pada puncaknya. Proses ini memungkinkan bayi mendapatkan kolostrum, ASI pertama yang kaya akan antibodi seperti immunoglobulin A sekretori (sIgA), yang membantu melindungi dari infeksi. Selain manfaat imunologis, IMD juga memperkuat hubungan emosional antara ibu dan bayi melalui skin-to-skin contact.

“Kualitas hidup dan daya saing bangsa di masa depan sangat bergantung pada generasi yang sehat dan tangguh. Bayi yang tidak mendapatkan IMD berisiko 1,3 kali lebih besar mengalami stunting dibandingkan bayi yang melakukannya,” ujar Dr. Mardiana, mengutip hasil penelitiannya.

Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022 menunjukkan angka stunting nasional mencapai 21,6%. Penurunan signifikan menjadi 14,9% pada 2025 menjadi target yang dicanangkan oleh WHO melalui Sustainable Development Goals (SDGs). Namun, tantangan tidak hanya pada IMD tetapi juga pada praktik pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang sering kali tidak memenuhi standar gizi dan kebersihan.

Dr. Mardiana juga menghubungkan praktik IMD dengan pendidikan karakter bangsa. “Attachment behavior yang terbangun selama fase awal kehidupan, sebagaimana diteorikan oleh John Bowlby, menjadi landasan kuat dalam membentuk generasi yang berintegritas. Nutrisi awal dan hubungan emosional ibu-bayi memengaruhi perkembangan motorik, kognitif, dan sosial anak di masa depan,” jelasnya.

Penelitian menunjukkan bahwa anak yang mendapatkan ASI selama enam bulan memiliki kemampuan kognitif, emosional, dan sosial yang lebih baik dibandingkan mereka yang tidak. “Breastfeeding juga mempercepat perkembangan lingual dan motorik kasar serta membantu anak lebih siap menghadapi tantangan sosial,” tambah Dr. Mardiana.

Rektor Universitas Andi Sudirman, Dr. H. M. Yasin, MH, menyatakan bahwa MoU ini merupakan langkah strategis untuk mengintegrasikan pendidikan tinggi dengan praktik kesehatan masyarakat. “Kerja sama dengan IBI Sulsel memungkinkan kami memberikan kontribusi nyata dalam mempersiapkan generasi yang sehat dan kompetitif, sesuai visi pembangunan berkelanjutan,” ungkapnya.

Dengan semangat kolaborasi ini, Universitas Andi Sudirman dan IBI Sulsel mengukuhkan perannya dalam mencetak tenaga kesehatan yang kompeten sekaligus berkontribusi pada pengentasan masalah stunting di Indonesia. Ini bukan hanya tentang kesehatan, tetapi tentang menciptakan bangsa yang kokoh dan berdaya saing di tingkat global. (*)