BONE– Di tengah keterbatasan anggaran, semangat pengabdian justru menemukan maknanya yang paling tulus. Hal itulah yang tercermin dari langkah yang diambil Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Ulaweng, Kabupaten Bone.

Kepala KUA Ulaweng, H. Muhammad Saleh, S.Pd.I., M.Pd, menegaskan bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak boleh terhenti hanya karena persoalan efisiensi anggaran. Baginya, keterbatasan bukan alasan untuk stagnan, melainkan ruang untuk melahirkan inovasi.

“Mengabdi itu tanpa batas. Apa pun kondisi yang ada, pelayanan kepada masyarakat harus tetap berjalan dengan baik,” ujarnya.

Semangat tersebut diwujudkan melalui berbagai pembenahan di lingkungan kantor. Salah satunya adalah pengecatan ulang gedung KUA Ulaweng. Langkah sederhana ini dilakukan untuk menciptakan suasana kerja yang lebih nyaman sekaligus memberikan kesan rapi dan bersih bagi masyarakat yang datang mengurus keperluan administrasi keagamaan.

Perubahan itu mungkin tidak tampak besar, namun memiliki makna yang mendalam. Warna baru di dinding kantor seolah menjadi simbol dari semangat baru bahwa pelayanan publik harus terus berbenah, meski dengan sumber daya yang terbatas.

Di ruang-ruang yang kini terlihat lebih cerah dan tertata, para pegawai tetap menjalankan tugas dengan penuh dedikasi. Mereka menyadari bahwa KUA bukan sekadar tempat administrasi, tetapi juga ruang pelayanan umat yang sarat nilai kepercayaan.

Langkah inovatif yang dilakukan KUA Ulaweng menjadi bukti bahwa perubahan tidak selalu membutuhkan anggaran besar. Dengan komitmen, kepedulian, dan semangat gotong royong, keterbatasan justru dapat melahirkan kreativitas.

Di Ulaweng, pengabdian itu nyata hadir dalam sapuan kuas cat di dinding kantor, dalam senyum petugas yang melayani, dan dalam tekad untuk terus memberi yang terbaik bagi masyarakat. (*)