BONE–SMAN 13 Bone menorehkan sejarah baru pada penghujung tahun 2025. Sekolah yang berada di bawah kepemimpinan Drs. Hamzah, MM itu resmi meraih predikat Adiwiyata Mandiri, penghargaan tertinggi bagi sekolah berbudaya lingkungan di Indonesia. Namun, lebih dari sekadar pencapaian institusi, label prestisius itu menjadi penutup yang indah bagi perjalanan panjang seorang pendidik yang telah mendedikasikan 32 tahun hidupnya untuk pendidikan.

Hamzah bukan nama baru di dunia pendidikan Kabupaten Bone. Pria bersahaja yang dikenal penuh semangat ini akan segera memasuki masa purnatugas sebagai Aparatur Sipil Negara pada 2025. “Pengabdian itu soal hati,” begitu prinsip yang selalu ia pegang. Dan penghargaan Adiwiyata Mandiri adalah persembahan terakhirnya sebelum melepas masa tugas.

Perjalanan karier Hamzah dimulai pada 1993 di SMA PGRI Bone sebagai guru teknik keterampilan. Minimnya tenaga pendidik saat itu membuatnya harus mengampu berbagai mata pelajaran. “Hampir semua mata pelajaran saya pernah ajar, karena memang guru sangat terbatas waktu itu,” kenangnya sembari tersenyum.

Tahun 2004 menjadi babak baru ketika ia dipercaya menjadi Pengawas SMP Kabupaten Bone. Selama lima tahun, puluhan sekolah ia bina. Dari berbagai pengalaman, satu yang paling melekat adalah saat bertugas di sebuah SMP swasta di Tabbae. “Jalan ke sana dulu sangat susah. Kadang harus dorong motor karena medannya berat. Tapi masyarakatnya luar biasa menghargai pendidikan,” ujarnya.

Tahun 2009 ia kembali ke jenjang SMA dan mengabdi di SMAN 1 Ulaweng (kini SMAN 15 Bone). Pada 2014, ia resmi menjabat sebagai kepala sekolah. Sejak itu, estafet kepemimpinan dijalankan dengan penuh dedikasi dari SMAN 1 Ulaweng, SMAN 18 Bone (dulu SMAN 1 Cina) pada 2017, SMAN 30 Bone di Palakka pada 2019, hingga akhirnya memimpin SMAN 13 Bone pada akhir 2022.

Sebagai kepala sekolah, misi besarnya sederhana namun fundamental: membuka jalan selebar-lebarnya bagi siswa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. “Belajar, belajar, dan belajar itu kunci meningkatkan kualitas SDM,” tegasnya.

Di bawah kepemimpinannya, SMAN 13 Bone menorehkan sederet capaian: mempertahankan akreditasi A, meraih gelar Sekolah Adiwiyata Nasional, serta mencatat peningkatan signifikan siswa yang lolos perguruan tinggi negeri jalur tanpa tes. Bahkan tahun lalu, SMAN 13 Bone dan SMAN 1 Bone menjadi dua sekolah favorit dengan pendaftar terbanyak di Kabupaten Bone.

Menjelang purnatugas, Hamzah menerima dua penghargaan yang mempertegas rekam jejaknya sebagai pendidik berkinerja tinggi. Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menganugerahkan Satyalancana Karya Satya XXX Tahun, sebuah penghormatan atas dedikasinya yang tanpa cela selama lebih dari tiga dekade.

Tak berhenti di situ, pada momentum Hari Pramuka ke-64 di Desa Mappesangka, Kecamatan Ponre, Hamzah dinobatkan sebagai salah satu penerima Lencana Melati, penghargaan tertinggi dari Kwartir Nasional Gerakan Pramuka. Tanda jasa yang ditandatangani Ketua Kwarnas Komjen Pol (Purn.) Drs. Budi Waseso itu diberikan kepada sosok yang dinilai berjasa besar dalam mengembangkan Gerakan Pramuka di daerah maupun nasional.

Adiwiyata Mandiri: Persembahan Terakhir untuk SMAN 13 Bone

Puncak perjalanan Hamzah sebagai kepala sekolah datang saat SMAN 13 Bone berhasil meraih predikat Adiwiyata Mandiri, penghargaan tertinggi dalam program sekolah berwawasan lingkungan. Baginya, ini bukan sekadar penghargaan, tetapi perubahan paradigma.

“Predikat Adiwiyata Mandiri adalah momentum untuk mengubah cara pandang dan cara berpikir kita. Agar bersama-sama menjaga dan memelihara keindahan, kebersihan, dan yang utama menciptakan suasana belajar yang nyaman dan asri,” tuturnya.

Ia juga mengapresiasi arahan para pimpinan daerah. Menurutnya, Gubernur Sulawesi Selatan dalam puncak peringatan HGN di Hotel Dalton menegaskan bahwa sekolah harus bersih dan berkarakter. Begitu pula Bupati Bone dan Wakil Bupati juga terus mendorong terciptanya suasana pendidikan yang nyaman, baik, dan progresif. “Beliau berdua bekerja tanpa henti untuk Bone yang lebih maju,” tambahnya.

Hamzah menutup masa pengabdiannya dengan warisan yang tak hanya tertulis dalam dokumen penghargaan, tetapi juga dalam karakter, budaya sekolah, dan semangat belajar ribuan siswa yang pernah ia sentuh.

Tiga dekade yang ia habiskan di ruang kelas, ruang pengawasan, hingga ruang kepemimpinan sekolah telah membentuknya sebagai sosok pendidik yang tidak hanya mengajar, tetapi menggerakkan.

Dan Adiwiyata Mandiri yang kini terpasang di dinding SMAN 13 Bone adalah bukti bahwa pengabdian yang dijalankan dengan kesungguhan akan selalu menemukan ujung yang indah. (*)