BONE–Momentum bersejarah, Ichsan Hatib, sutradara sekaligus produser berbakat, meluncurkan film animasi 3D pertama berbahasa Bugis berjudul Panre Ambo dan Kawali. Film ini menjadi wujud nyata kerja sama antara PKBM Sipakatau dengan Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemendikbud Ristek, dan LPDP melalui program Dana Indonesiana. Pemutaran perdana berlangsung meriah dengan kehadiran tokoh penting seperti Pj. Sekda Bone A. Fajaruddin, Asisten II Setda Bone Alimuddin Massappa, Kepala Dinas Kominfo Bone H. Barham, serta Ambo Upe, seorang pandai besi yang kisahnya menjadi inspirasi utama dalam film berdurasi 30 menit ini.

Film ini mengungkapkan proses pembuatan kawali (belati khas Bugis) yang kaya akan nilai filosofis. Ichsan Hatib, alumni S3 ISI Yogyakarta, menuturkan bahwa film ini merupakan bentuk penghormatan terhadap budaya lokal sekaligus upaya untuk melestarikannya di tengah perubahan zaman. “Alhamdulillah, kami bisa meluncurkan film yang tidak hanya mengisahkan proses pembuatan kawali secara detail tetapi juga menyisipkan elemen fiksi tanpa mengurangi nilai budaya,” ujarnya.

Proyek ambisius ini melibatkan 150 orang, membutuhkan waktu satu tahun untuk proses produksi, dan menggunakan 45 ribu gambar animasi. Setiap detik dalam film membutuhkan 24 gambar yang dirangkai secara cermat.

Film ini juga menjadi media untuk mengungkap kondisi nyata pandai besi di Bone yang semakin jarang ditemui. Hendra, cucu dari Ambo Upe, merupakan salah satu generasi muda terakhir yang masih meneruskan tradisi ini. Ichsan menyesalkan bahwa anak muda saat ini lebih tertarik menjadi influencer, YouTuber, atau TikToker dibandingkan melanjutkan tradisi budaya seperti menempa kawali.

“Siapa lagi yang ingin melestarikan budaya kalau bukan kita? Film ini adalah harapan agar generasi muda kembali mencintai budaya mereka,” tegas Ichsan.

Ichsan sendiri memiliki latar belakang yang inspiratif. Setelah delapan tahun mengajar di Universitas Negeri Semarang, ia memilih kembali ke Bone untuk mengabdi dan mendirikan PKBM Sipakatau. “Tidak ada gunanya saya berkarier di luar sementara ada 48 ribu anak putus sekolah di kampung halaman saya,” ungkapnya.

Film ini menjadi bagian dari misi besar Ichsan untuk meningkatkan kesadaran budaya dan pendidikan di Bone. Dengan dukungan berbagai komunitas kreatif lokal, seperti Sumange Ruang Kreasi dan Rumah Kreasi Budaya Bangsa Saoraja Bone, Panre Ambo dan Kawali diharapkan mampu memotivasi kaum milenial Bone untuk berkarya.

Di penghujung acara, Ichsan berharap film ini menjadi inspirasi bagi generasi muda. “Berbuatlah dulu. Satu karya lebih berarti daripada seribu cerita,” katanya.

Melalui Panre Ambo dan Kawali, Ichsan Hatib telah membuktikan bahwa warisan budaya Bugis tidak hanya bisa dilestarikan, tetapi juga dipersembahkan kepada dunia dalam kemasan modern yang memikat. Film ini tidak hanya sebuah tontonan, tetapi juga sebuah perjalanan batin dan pengingat tentang pentingnya menjaga akar budaya kita.

Pj. Sekda Bone, Andi Fajaruddin, menambah makna tersendiri dalam momen bersejarah ini. Dalam sambutannya, Andi Fajaruddin mengungkapkan kebanggaannya terhadap karya ini sebagai bentuk nyata upaya merawat budaya dan tradisi leluhur Bugis.

“Saya sangat senang bisa hadir di sini hari ini. Film ini adalah inovasi luar biasa dan langkah konkrit untuk menjaga warisan leluhur kita. Apresiasi setinggi-tingginya kepada sutradara sekaligus produser, adinda Ichsan Hatib, yang telah menghadirkan karya kreatif ini,” ujar Andi Fajaruddin.

Lebih dari sekadar film, karya ini menjadi simbol dedikasi Ichsan Hatib, yang juga dikenal sebagai pendiri PKBM Sipakatau. Lembaga ini telah berkontribusi nyata dalam membantu anak-anak putus sekolah di Kabupaten Bone. Komitmennya terhadap pendidikan dan pelestarian budaya Bugis menjadi teladan inspiratif bagi generasi muda.

Dalam kesempatan tersebut, Andi Fajaruddin mengungkapkan pernah mengajak Ichsan untuk bekerja sama di Dinas Pendidikan guna mengembangkan pendidikan di Bone. “Pernah saya memanggil adinda Ichsan untuk membantu saya di dinas, tetapi saat itu terkendala tugasnya sebagai ASN di tempat lain. Namun, lima bulan lalu, beliau memutuskan mundur dari ASN demi fokus pada kontribusi nyata seperti ini,” ungkapnya.

Film animasi ini diharapkan menjadi sarana edukasi budaya bagi masyarakat, khususnya generasi muda. “Kami berharap film ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga mampu melahirkan panre ambo yang menjaga dan melestarikan budaya Bugis. Ini adalah salah satu upaya agar generasi muda tidak melupakan warisan leluhur kita,” tambah Fajaruddin yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan Bone.

Pemutaran film animasi ini mendapat sambutan hangat dari berbagai kalangan. Semangat pelestarian budaya yang diusung film ini menjadi bukti bahwa tradisi lokal dapat terus hidup melalui medium modern seperti animasi. Bagi Ichsan Hatib, perjalanan panjang mewujudkan karya ini merupakan bentuk cintanya kepada budaya Bugis dan komitmennya untuk terus menginspirasi.

Film ini tidak hanya menjadi cerita, tetapi juga sebuah jendela bagi generasi mendatang untuk memahami, mencintai, dan melestarikan budaya Bugis yang kaya dan penuh makna. (*)