Momen Hari Pahlawan setiap 10 November akan menjadi cahaya krusial bagi bangsa Indonesia untuk kembali mengenang jasa para pejuang bangsa yang telah gugur berkorban demi negara. Akan tetapi, di tengah perkembangan digital yang pesat ini, makna kepahlawanan perlu dimaknai kembali secara saksama, terutama oleh generasi muda masa kini, yaitu Generasi Z (Gen Z). Tahun 2025 akan menjadi pelita bagi Generasi Muda untuk meneguhkan kembali semangat juang para pendahulu dalam konteks kehidupan modern saat ini.
Gen Z adalah generasi yang lahir dan tumbuh di tengah berkembangnya teknologi digital. Generasi yang tidak hanya memiliki akses luas terhadap berbagai informasi dan peluang, tetapi juga menghadapi tantangan besar seperti pemrosesan big data, real vs Artificial Intelligence, hoax, trash humor, cyber crime, krisis identitas, dan pergeseran budaya. Dalam situasi seperti ini, semangat kepahlawanan bukan lagi tentang perjuangan secara fisik, melainkan tentang kemampuan beradaptasi, berkolaborasi, berpikir inovatif, dan berkontribusi positif bagi masyarakat. Pahlawan muda masa kini adalah mereka yang mencegah adanya disinformasi, menjaga etika digital (stop keyboard warrior), menggagaskan inovasi, serta memperjuangkan kebenaran melalui karya serta tindakan nyata.
Peringatan Hari Pahlawan di 2025 ini sudah sepatutnya menjadi refleksi bagi pemuda Gen Z untuk tidak larut dalam kemudahan teknologi, tetapi justru memanfaatkan kekuatan digital tersebut sebagai alat perjuangan baru. Di era globalisasi dan kecerdasan buatan (AI), semangat nasionalisme dan tanggung jawab sosial harus tetap menjadi kekuatan dan ketahanan dalam berkarya.
Dengan demikian, esensi Hari Pahlawan tidak hanya sekadar menjadi pengingat atas perjuangan para pahlawan di masa lalu, tetapi juga menjadi panggilan bagi generasi muda untuk berperan sebagai pahlawan di zamannya sendiri, yaitu pahlawan yang berjuang dengan inovasi, pengetahuan, kreativitas, kejujuran, dan ketulusan demi kemajuan bangsa dan negara. (*)



Tinggalkan Balasan