BONE– Kabupaten Bone menorehkan capaian membanggakan. Pertumbuhan ekonomi daerah ini pada tahun 2025 mencapai 6,03 persen—angka tertinggi dalam enam tahun terakhir. Capaian ini pun menuai apresiasi dari Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman dalam acara buka puasa bersama di Kampung Halamannya Bakungnge Desa Mappesangka Kecamatan Ponre pada Kamis, 20 Maret 2026.

Dalam sambutannya, Andi Amran tidak hanya mengapresiasi, tetapi juga memberi tantangan kepada adiknya yang kini menjabat sebagai Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, untuk terus menjaga bahkan meningkatkan laju pertumbuhan tersebut.

“Ayo kita bergerak bersama. Kalau bisa dipertahankan, bahkan ditingkatkan hingga 7 persen,” tegasnya, memberi semangat kepada jajaran pemerintah daerah.

Kekuatan ekonomi Bone tercermin dari angka Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Atas dasar harga berlaku, PDRB Bone telah mencapai Rp54,21 triliun. Sementara itu, atas dasar harga konstan, nilainya berada di angka Rp28,45 triliun.

Secara sederhana, PDRB menggambarkan total aktivitas ekonomi masyarakat dalam satu tahun. Nilai harga berlaku menunjukkan besarnya perputaran uang secara riil, sedangkan harga konstan menjadi indikator pertumbuhan ekonomi yang sesungguhnya karena telah menghilangkan pengaruh inflasi.

Dengan capaian tersebut, Bone menempati posisi kedua tertinggi di Sulawesi Selatan setelah Makassar—sebuah lompatan signifikan bagi daerah yang dikenal dengan basis pertanian kuat.

Perjalanan ekonomi Bone dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan grafik yang dinamis:

2020: -0,25%

2021: 5,53%

2022: 5,23%

2023: 3,77%

2024: 5,56%

2025: 6,03%

Tahun 2020 menjadi titik terendah akibat dampak pandemi. Namun sejak 2021, ekonomi mulai bangkit. Sempat melambat pada 2023, laju pertumbuhan kembali menguat hingga mencapai puncaknya pada 2025.

Angka 6,03 persen ini menjadi sinyal kuat bahwa roda ekonomi Bone tidak hanya pulih, tetapi juga semakin produktif dan stabil.

Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, menyebut capaian ini merupakan hasil sinergi berbagai sektor.

“Alhamdulillah, secara nilai absolut kita berada di urutan kedua setelah Makassar,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Bone ditopang oleh beberapa faktor utama:

Dukungan anggaran pusat dan provinsi, terutama pada pembangunan infrastruktur

Dana CSR yang masuk ke daerah

Program IP300, yang meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani

Harga gabah yang berpihak pada petani

Sektor jagung sebagai komoditas unggulan

Program makan bergizi gratis, yang mendorong konsumsi pangan lokal dan penyerapan tenaga kerja

Tak hanya itu, geliat UMKM juga menjadi penggerak penting. Aktivitas ekonomi di kawasan seperti Taman Arung Palakka menunjukkan tingginya perputaran uang masyarakat, bahkan dari sektor parkir saja mampu menyumbang Pendapatan Asli Daerah hingga Rp200 juta.

Dari sisi pembiayaan, Bone juga mencatatkan prestasi sebagai salah satu daerah dengan realisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) terbesar di Sulawesi Selatan. Hingga awal 2026, penyaluran KUR telah menembus Rp1,7 triliun, didominasi sektor pertanian.

Besarnya perputaran uang inilah yang menjadi fondasi kuat pertumbuhan ekonomi daerah.

Dengan tren yang terus menanjak, Bone kini berada di jalur yang tepat menuju pertumbuhan yang lebih tinggi. Kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, serta masyarakat menjadi kunci untuk menjaga momentum ini.

Dorongan dari Andi Amran Sulaiman menjadi pengingat bahwa capaian hari ini bukanlah titik akhir, melainkan pijakan untuk melompat lebih jauh.

Target 7 persen bukan sekadar angka melainkan simbol optimisme bahwa Bone mampu menjadi salah satu motor ekonomi baru di Sulawesi Selatan. (*)