BONE–Desa Mattiro Walie, Kecamatan Cina, menyimpan potensi besar di sektor hortikultura. Berjarak kurang dari satu jam perjalanan dari pusat kota Watampone, desa ini menjadi penghasil berbagai komoditas perkebunan, termasuk durian, rambutan, langsat, dan lengkeng. Selain itu, masyarakat setempat juga mengembangkan budidaya tanaman cengkeh yang kini mulai diolah secara kreatif menjadi berbagai produk bernilai tambah.
Namun sayangnya, akses menuju desa ini masih menjadi tantangan besar. Hampir dua kilometer jalan dari poros Kecamatan Cina menuju Desa Lerang hingga ke Desa Mattiro Walie belum pernah tersentuh aspal. Kondisi jalan yang hanya sebatas pengerasan semakin memprihatinkan saat musim hujan tiba. Lumpur, bebatuan, dan jalan licin memaksa pengendara untuk ekstra berhati-hati.
Ketika penulis berkunjung, hamparan kebun dengan berbagai tanaman hortikultura menyambut di sepanjang jalan desa. Namun yang menarik adalah inovasi warga dalam memberdayakan daun cengkeh yang jatuh dari pohon. Daun-daun ini tidak hanya dibuang begitu saja tetapi diolah menjadi bahan dasar pembuatan parfum dan sabun cuci.
Mulawarman, S.Sos., salah satu warga Desa Mattiro Walie yang aktif dalam pengembangan olahan daun cengkeh, berbagi kisah inspiratif.
“Alhamdulillah, sudah ada perusahaan besar yang membeli olahan daun cengkeh yang kami kelola untuk pembuatan parfum. Saat ini, kami tengah berinovasi mengolahnya menjadi sabun cuci juga,” ungkap Mulawarman dengan antusias.
Namun tantangan besar tetap ada. Menurut Mulawarman, proses pengolahan daun cengkeh sangat tergantung pada cuaca.
“Kalau musim hujan, sulit melakukan pengolahan karena daun yang jatuh basah. Harus menunggu musim kering,” ujarnya.
Dengan dukungan dari Yayasan Jusuf Kalla, ia telah mendapatkan pembinaan terkait pengolahan daun cengkeh. Meski demikian, Mulawarman berharap adanya pabrik olahan yang memadai untuk mendukung proses pengolahan secara lebih profesional.
“Saat ini kami hanya menyiapkan bahan mentah. Kalau ada pabrik pengolahan di sini, harga jual bisa lebih mahal,” jelasnya.
Sebagai warga setempat, Mulawarman juga berharap ada perhatian dari pemerintah daerah terkait perbaikan akses jalan ke desa mereka.
“Kalau akses jalan bagus, pasti perekonomian di sini bergerak lebih cepat,” tutup Mulawarman penuh harap.
Desa Mattiro Walie dengan segala potensinya adalah salah satu contoh betapa pentingnya dukungan infrastruktur untuk mendorong pertumbuhan ekonomi pedesaan. Pemerintah daerah diharapkan dapat segera turun tangan agar jerih payah masyarakat tidak terhambat oleh buruknya akses jalan.
Selain potensi agrikultur, perputaran ekonomi di Desa Mattiro Walie juga menggeliat berkat musim panen durian. Warda, salah satu pengunjung desa tersebut, mengapresiasi antusiasme masyarakat yang datang untuk menikmati durian langsung dari kebun. “Meski akses jalan tidak bagus, masyarakat tetap ramai datang ke sini. Tidak perlu bawa durian ke pasar karena orang luar sudah datang langsung ke sini,” ungkap Warda.
Ia membayangkan jika akses jalan diperbaiki, perputaran ekonomi masyarakat pasti lebih meningkat. “Bayangkan kalau jalanan bagus, pasti lebih banyak orang yang datang. Ekonomi warga pasti jauh lebih berkembang,” tuturnya penuh harap.
Masyarakat Desa Mattiro Walie kini menunggu perhatian dari pemerintah untuk memperbaiki akses jalan ke desa mereka. Dengan potensi hortikultura yang besar dan antusiasme masyarakat yang tinggi, desa ini menyimpan peluang besar sebagai pusat agrikultur dan destinasi wisata buah di Kabupaten Bone. (*)



Tinggalkan Balasan