BONE– Sabtu pagi, 7 Februari 2026, Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., MM memilih turun langsung menyusuri lorong dan permukiman warga di salah satu kelurahan Kecamatan Tanete Riattang, Kota Watampone. Tanpa seremoni berlebihan, kunjungan itu menjadi cara sederhana namun bermakna untuk memastikan wajah ibu kota kabupaten tetap terjaga—bersih, indah, dan nyaman bagi warganya.
Sebagai Orang Nomor Satu di Bumi Arung Palakka, Bupati Andi Asman tak hanya memantau kebersihan lingkungan. Ia juga menyempatkan diri mengunjungi Lorong Bunga dan Gizi (Bugiz) di Kelurahan Bukaka, sebuah lorong yang kini menjadi simbol kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam membangun lingkungan sehat berbasis gizi.
Lorong Bugiz merupakan bagian dari program Pemerintah Kabupaten Bone dalam rangka menyambut Hari Jadi Bone. Program ini diperlombakan di tingkat desa dan kelurahan—di kelurahan dikenal sebagai Lorong Kelurahan Bugiz, sementara di desa disebut Lorong Dusun Bugiz. Namun lebih dari sekadar lomba, program ini diharapkan menjadi gerakan bersama yang berkelanjutan.
“Lorong dan dusun bukan sekadar jalur lalu-lalang, melainkan cermin kualitas hidup. Kalau lingkungan kita tertata, bersih, dan hijau, maka kualitas hidup warga juga akan meningkat,” ujar Bupati Andi Asman di sela kunjungannya. Ia menegaskan harapannya agar lomba ini tidak berhenti sebagai kompetisi, melainkan menjadi budaya hidup masyarakat.
Keunikan Lomba Lorong Bugiz terletak pada penekanan unsur gizi. Setiap desa mengikutkan satu dusun dan setiap kelurahan satu lorong, dengan kreativitas warga dalam memadukan kebersihan, keindahan, serta tanaman gizi yang bermanfaat langsung bagi keluarga.
“Yang paling penting ada unsur gizinya. Tanaman gizi itu harus kelihatan, dipamerkan, dikonsumsi, dan berdampak pada kondisi kesehatan masyarakat. Ini bagian dari upaya kita menekan angka gizi buruk dan stunting,” tegasnya.
Kunjungan ini menjadi gambaran pendekatan kepemimpinan yang membumi—menyapa warga dari lorong ke lorong, menanam harapan dari halaman rumah, serta menegaskan bahwa pembangunan dimulai dari lingkungan terkecil: lorong tempat warga bernaung dan bertumbuh bersama. (*)



Tinggalkan Balasan