BONE– Di tengah semarak bulan suci Ramadan, langkah kaki H. Andi Asman Sulaiman menyusuri deretan lapak di Pasar Ramadan Uloe, Desa Uloe, Kecamatan Dua Boccoe, Kabupaten Bone, menghadirkan suasana hangat dan penuh optimisme. Aroma pisang ijo yang manis, segarnya cendol dan es buah, hingga gurihnya bakso bakar bercampur dengan hiruk-pikuk transaksi masyarakat yang berburu menu berbuka puasa.
Pasar Ramadan Uloe kini menjelma menjadi pusat kuliner favorit warga. Tak hanya menyajikan aneka takjil seperti pisang ijo dan cendol, tetapi juga makanan berat, sayur mayur, hingga ikan segar. Semua tersedia dalam satu kawasan, memudahkan masyarakat mendapatkan kebutuhan berbuka dalam satu kunjungan.
Bupati Bone tampak menyapa para pedagang satu per satu. Ia mengapresiasi inisiatif Kepala Desa Uloe yang dinilainya mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat secara nyata. Antusiasme pedagang dan pembeli begitu terasa. Bahkan, rata-rata dagangan masyarakat habis terjual sebelum waktu berbuka tiba.
“Ini menandakan perekonomian desa semakin maju dan berkembang. Apa yang dilakukan Kepala Desa Uloe patut diapresiasi dan bisa menjadi role model bagi desa maupun kelurahan lain,” ungkapnya.
Menurutnya, pasar seperti ini tidak hanya digelar saat event tertentu, tetapi bisa dirancang menjadi agenda rutin yang berkelanjutan. Ramadan memang momentum yang tepat karena masyarakat berburu kuliner untuk berbuka, dan ketika dipusatkan dalam satu lokasi, maka perputaran ekonomi menjadi lebih terarah dan maksimal.
Lebih jauh, Bupati Bone juga menekankan pentingnya penataan kawasan ke depan. Ia berharap Pasar Ramadan Uloe dapat ditata lebih rapi dan terstruktur agar kenyamanan pedagang maupun pengunjung semakin meningkat. Bahkan, ia mendorong agar lokasi ini dipikirkan menjadi pusat kuliner dan pusat ekonomi desa yang berkelanjutan, tidak hanya musiman.
Sementara itu, Kepala Desa Uloe, H. Abdul Rahman Hafid, mengungkapkan bahwa Pasar Ramadan ini telah dilaksanakan sejak tahun 2017 dan terus berkembang hingga sekarang.
“Perputaran uang bisa mencapai Rp150 juta selama Ramadan. Masyarakat sangat antusias. Setiap Ramadan kami fasilitasi pedagang dengan menyiapkan baruga agar tidak kepanasan,” ujarnya.
Ia menambahkan, selain meningkatkan pendapatan warga, kegiatan ini juga berkontribusi terhadap Pendapatan Asli Desa (PADes) melalui retribusi yang dikenakan kepada pedagang sebagai bentuk timbal balik atas fasilitas yang disiapkan pemerintah desa.
Di Desa Uloe, Ramadan bukan sekadar bulan ibadah. Ia menjadi momentum kebersamaan, ruang perjumpaan, sekaligus penggerak ekonomi rakyat. Pasar Ramadan Uloe kini bukan hanya tempat berburu takjil, tetapi simbol tumbuhnya kemandirian dan kreativitas desa dalam membangun kesejahteraan warganya. (*)



Tinggalkan Balasan