BONE–Derap langkah ribuan orang memecah pagi di kawasan pemukiman Wiring Tasi, Kelurahan Bajoe, Kecamatan Tanete Riattang Timur. Dengan semangat gotong royong, mereka memanggul karung demi karung sampah yang telah lama menumpuk di daerah pesisir yang dikenal sebagai kawasan kumuh ini.
Kegiatan yang dinamai Gerakan 3000 Kantong Sampah itu digelar dalam rangkaian bakti sosial (baksos) lintas sektor, yang melibatkan Pemerintah Kecamatan Tanete Riattang Timur, organisasi masyarakat, serta media cetak dan elektronik. Turut hadir dan memimpin langsung kegiatan ini, Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., MM, didampingi oleh Dandim 1407/Bone Letkol Inf. La Ode Muh. Idrus, dan Kapolres Bone AKBP Sugeng Setyo Budhi, SIK., M.Tr. Opsla.
Tak tanggung-tanggung, sekitar 2.000 orang terdiri dari 1.500 masyarakat dan 500 aparat pemerintah diturunkan untuk menyisir sampah di wilayah seluas 4 kilometer persegi ini.
Camat Tanete Riattang Timur, Dr. Andi Muhammad Iqbal Walinono, SE., M.Si, menjelaskan bahwa gerakan ini merupakan bentuk nyata dukungan terhadap program besar Bupati Bone untuk menjadikan Bone sebagai daerah bersih dari sampah. Menurutnya, gerakan ini bukan hanya bersifat simbolik, tetapi merupakan langkah awal pemberdayaan masyarakat agar terbiasa hidup sehat dan bersih.
“Kegiatan ini diharapkan dapat membentuk pola hidup sehat di tengah masyarakat. Kami ingin lingkungan yang bersih tidak hanya datang dari pemerintah, tetapi menjadi kesadaran kolektif warga,” ujarnya.
Meski demikian, Iqbal mengungkapkan bahwa kondisi Kelurahan Bajoe masih jauh dari harapan, meskipun secara administratif telah berstatus Open Defecation Free (ODF). Realitas di lapangan menunjukkan masih lemahnya perilaku hidup bersih sebagian warga, yang memperparah kondisi lingkungan.
Bupati Bone, yang menyusuri langsung gang-gang kecil penuh tumpukan sampah di sekitar Wiring Tasi, menyampaikan keprihatinannya. Ia menegaskan bahwa pemerintah akan melakukan intervensi lanjutan melalui Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Disperkibtam) untuk memperbaiki infrastruktur pemukiman di wilayah tersebut.
“Dengan 600 KK yang tinggal di kawasan ini, kita tidak bisa membiarkan lingkungan mereka terus-menerus tercemar. Pemukiman layak harus menjadi prioritas,” tegas Andi Muhammad Iqbal menirukan pernyataan Bupati.
Salah satu penyebab utama tumpukan sampah, kata Camat Iqbal, justru bukan dari warga semata, melainkan sampah kiriman yang terbawa saat air laut pasang. Ketika air surut, sampah itu tertinggal di pemukiman warga, terutama di sepanjang tanggul.
Sebagai solusi jangka panjang, Bupati berjanji akan menambah fasilitas pengelolaan sampah, seperti motor pengangkut sampah dan tong sampah besar, serta membangun penyaring sampah di wilayah tanggul agar tidak lagi menjadi tempat penumpukan limbah kiriman.
Gerakan ini menjadi bukti bahwa ketika pemerintah, masyarakat, dan semua elemen bersatu, perubahan bukan hanya mungkin tetapi bisa dimulai hari ini. (*)



Tinggalkan Balasan