BONE– Di tengah hamparan permukiman warga Kelurahan Pompanua, sebuah jalan beton baru kini menjadi simbol harapan sekaligus kepedulian sosial. Jalan sepanjang sekitar 315 meter yang mengarah ke Pondok Tahfidzul Qur’an As-Suhur resmi dioperasikan pada Selasa (17/2/2026), menjadi jalur penghubung penting bagi warga sekaligus akses utama menuju lembaga pendidikan Al-Qur’an tersebut.

Infrastruktur ini dibangun oleh Yayasan Haji Ahmad Surur di bawah kepemimpinan H. Faisal Ibrahim Surur, Lc., M.Si. Pembangunan jalan yang menelan biaya miliaran rupiah tersebut merupakan kontribusi pribadi sang ketua yayasan sebuah wujud nyata kepedulian terhadap kampung halaman dan masyarakat sekitar.

Peresmian jalan berlangsung hangat dan penuh nuansa kebersamaan. Hadir dalam kesempatan itu Wakil Bupati Bone, Dr. H. Andi Akmal Pasluddin, SP., M.M., Wakil Ketua TP PKK Bone Maya Damayanti Andi Akmal, Kepala Dinas Bina Marga, Cipta Karya, dan Tata Ruang Bone H. Askar, serta tokoh masyarakat dan warga setempat yang antusias menyambut hadirnya akses baru tersebut.

Bagi Faisal Ibrahim Surur, jalan ini bukan hanya proyek fisik, melainkan juga jalan pengabdian. Ia menegaskan bahwa pembangunan tersebut dilandasi niat memberi manfaat bagi sesama. “Khairunnas anfau linnas, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama,” ujarnya.

Ia juga mengajak keluarga dan masyarakat untuk memanfaatkan harta demi kepentingan bersama, bukan sekadar disimpan. Pesan itu disampaikan dengan bahasa yang sederhana namun sarat makna: kekayaan akan lebih berarti ketika dapat dirasakan manfaatnya oleh orang banyak.

Jalan beton ini diharapkan mampu meningkatkan aksesibilitas warga, memperlancar mobilitas, serta menunjang aktivitas ekonomi masyarakat. Selain itu, konstruksi beton dinilai lebih tahan terhadap kondisi wilayah yang kerap dilanda banjir, sehingga memberi jaminan akses yang lebih aman dan berkelanjutan.

Wakil Bupati Bone, Dr. H. Andi Akmal Pasluddin, menyampaikan apresiasi atas kontribusi Faisal Ibrahim Surur dan keluarganya. Menurutnya, langkah tersebut menjadi contoh nyata kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah dalam membangun daerah.

Ia menjelaskan bahwa pembangunan jalan di wilayah tersebut sebelumnya memang telah direncanakan pemerintah daerah. Namun, keterbatasan anggaran akibat kebijakan efisiensi membuat rencana itu tertunda.

“Alhamdulillah, ada bantuan dari Bapak Haji Faisal yang membantu membangun jalan ini. Apalagi jalan beton sangat dibutuhkan di wilayah rawan banjir seperti ini,” ungkapnya.

Pemerintah Kabupaten Bone pun berharap kebaikan ini bisa menginspirasi warga Bone lain yang sukses di luar daerah untuk ikut berkontribusi melalui amal jariyah demi pembangunan kampung halaman.

Di ujung jalan beton itu berdiri Pondok Tahfidzul Qur’an As-Suhur bukan hanya sebagai lembaga pendidikan Al-Qur’an, tetapi juga pusat kegiatan keagamaan yang terus berkembang. Pondok ini kerap dikunjungi ulama dari berbagai negara seperti Singapura, Malaysia, Pakistan, Mesir, Sudan, hingga Maroko.

Salah satu daya tariknya adalah peninggalan bersejarah berupa mushaf dan kitab karya Syeikh Abdul Majid al-Muhammady, kakek dari keluarga Surur, yang menjadi magnet spiritual bagi para tamu mancanegara.

Lembaga tahfidz yang didirikan pada 1 Agustus 2021, di masa pandemi Covid-19, lahir dari kisah haru keluarga. Saat itu, sang ibunda keluarga Surur tengah berjuang melawan kanker dan selalu ingin mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur’an. Dari situlah muncul inspirasi untuk membangun tempat yang menghadirkan keberkahan bagi banyak orang.

Kini, sekitar 70 santri dari keluarga kurang mampu dibina secara gratis di pondok ini, menjadikannya ruang pendidikan sekaligus harapan baru bagi generasi muda.

Yayasan Haji Ahmad Surur dikenal konsisten dalam aktivitas sosial dan keagamaan. Sebelumnya, yayasan ini membangun Aula Serba Guna di Pondok Pesantren As’adiyah Macanang yang diberi nama Aula Muh. Yusuf Surur, serta membangun sebuah masjid di Malino.

Sejak berdirinya pondok tahfidz, berbagai kegiatan sosial turut tumbuh di sekitarnya: mulai dari aqiqah, Jumat berkah, subuh berkah, hingga resepsi pernikahan yang makanan hantaran-nya dibagikan kepada para santri. Banyak masyarakat datang untuk bersilaturahmi, meminta doa, bahkan menyalurkan sumbangan secara sukarela termasuk dari luar daerah.

Jalan beton di Pompanua bukan sekadar akses fisik menuju sebuah pondok tahfidz. Ia menjadi simbol bagaimana kepedulian pribadi mampu menjelma menjadi manfaat bersama. Dari jalan itu, bukan hanya kendaraan yang melintas melainkan juga harapan, doa, dan semangat gotong royong yang terus hidup di tengah masyarakat Bone. (*)