BONE– Suasana haru menyelimuti acara wisuda Universitas Cahaya Prima (Uncapi). Di tengah prosesi yang sarat kebanggaan itu, hadir Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., MM, membawa bukan hanya ucapan selamat, tetapi juga sebuah kisah kemanusiaan yang menyentuh hati banyak orang.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Bone menyerahkan bantuan senilai Rp17 juta kepada salah satu wisudawan berprestasi, Akbar, mahasiswa asal Bontocani. Penyerahan bantuan itu berlangsung sederhana, namun percakapan yang menyertainya justru menjadi momen paling menggetarkan.
Dengan nada hangat dan penuh perhatian, Bupati Andi Asman menyapa Akbar.
“Hadiah yang saya berikan ini rencananya mau digunakan untuk apa?” tanyanya.
Akbar terdiam sejenak. Dengan suara lirih namun jujur, ia menjawab,
“Untuk bayar utang, Puang.”
Jawaban itu membuat Bupati Bone tertegun. Raut wajahnya berubah, seolah tak menyangka.
“Utang apa?” tanyanya kembali.
Akbar pun menjelaskan dengan apa adanya. Ia adalah mahasiswa penerima beasiswa. Namun sejak memasuki semester sembilan, bantuan tersebut terhenti akibat beberapa kendala. Untuk bertahan dan menyelesaikan kuliah, ia terpaksa berutang demi menutupi biaya pendidikan.
Penjelasan itu langsung direspons Bupati Bone dengan sikap tegas namun sarat empati.
“Di luar hadiah ini karena kamu berprestasi, utangmu saya lunasi,” ucapnya mantap.
Kalimat singkat itu sontak mengundang tepuk tangan panjang dari para hadirin. Mata Akbar tampak berkaca-kaca. Haru bercampur lega tergambar jelas di wajahnya. Bagi Akbar, bantuan tersebut bukan sekadar angka, melainkan penutup dari perjuangan panjang yang nyaris tak terlihat.
Momen itu pun menjadi pengingat bahwa di balik toga dan ijazah, ada kisah-kisah perjuangan sunyi yang sering luput dari sorotan. Kepedulian Bupati Bone pada hari itu bukan hanya memberi solusi, tetapi juga menanamkan harapan—bahwa kerja keras, kejujuran, dan ketekunan tak pernah benar-benar berjalan sendirian.
Bagi sebagian wisudawan, hari itu akan selalu dikenang. Bukan hanya sebagai hari kelulusan, tetapi sebagai hari ketika empati seorang pemimpin memberi semangat baru untuk melangkah menatap masa depan. (*)



Tinggalkan Balasan