BONE– Rapat penguatan tak selalu harus berlangsung di ruang kerja berpendingin udara atau di balik meja rapat resmi. Kadang, ruang sederhana justru melahirkan gagasan besar. Itulah yang tergambar dari langkah Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., MM, pada Kamis, 05 Februari 2026.

Di sebuah pendopo sederhana berukuran kurang lebih 5 x 2 meter, hanya berbekal papan tulis selebar satu meter, Bupati Bone menggelar rapat penguatan pengembangan Balai Benih Ikan (BBI) Amali yang terletak di Taretta, Kecamatan Amali. Rapat itu melibatkan Plt. Kepala Dinas Perikanan, para kepala bidang, serta kepala UPT lingkup Dinas Perikanan Kabupaten Bone.

Kesederhanaan tempat rapat berbanding terbalik dengan besarnya perhatian Bupati terhadap kondisi BBI Amali. Dengan nada prihatin, ia menyoroti kondisi balai yang dinilai semrawut dan terkesan tidak terurus, padahal menyimpan potensi besar untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sekaligus kesejahteraan masyarakat.

“BBI ini seharusnya bisa menghasilkan PAD yang memadai. Jangan hanya hadir secara fisik, tapi harus memberi manfaat nyata,” tegas Bupati.

Dalam arahannya, Bupati meminta Pj. Sekretaris Daerah Kabupaten Bone untuk mengalokasikan anggaran khusus bagi pembenahan dan pengembangan BBI Amali. Namun ia menekankan, setiap anggaran yang digelontorkan harus berbanding lurus dengan hasil yang maksimal.

Ia bahkan menargetkan BBI Amali menjadi pusat distribusi ikan, dengan melibatkan desa-desa di sekitarnya untuk mengembangkan budidaya ikan oplog, di mana seluruh bibit ikan akan disuplai langsung dari BBI Amali.

“Kita harus berpikir dengan orientasi profit. BBI ini harus mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sekaligus menjadi bagian dari upaya pencegahan stunting,” ujarnya.

Tak berhenti di situ, Bupati juga menegaskan peran strategis Dinas Perikanan dalam mengawal dan menjemput program-program nasional, termasuk pengembangan desa nelayan seperti yang ada di Desa Angkue. Ia berharap, pada tahun berjalan, semakin banyak program pusat yang bisa ditarik masuk ke Kabupaten Bone.

“Kita punya 10 wilayah pesisir. Ini potensi besar. Harus ada pengolahan ikan agar hasil laut kita benar-benar berdampak pada kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Sebagai gagasan inovatif, Bupati juga melempar konsep Perahu Anti Stunting. Program ini dirancang agar perahu dijalankan langsung oleh masyarakat dengan sistem bagi hasil, di mana sebagian keuntungan digunakan untuk mendukung intervensi pencegahan stunting.

“Kita ini kaya ikan. Tinggal bagaimana kita mengelolanya dengan benar, agar hasilnya kembali ke masyarakat,” tutupnya.

Dari pendopo sederhana itu, terlihat jelas bahwa penguatan kebijakan tak selalu membutuhkan kemewahan. Dengan visi, keberpihakan, dan keberanian mengambil langkah konkret, Bupati Bone menegaskan komitmennya menjadikan sektor perikanan sebagai penggerak ekonomi sekaligus solusi sosial bagi masyarakat Bone. (*)