BONE–Komitmen Pemerintah Kabupaten Bone dalam menjaga dan menguatkan nilai-nilai adat serta sejarah daerah kembali ditegaskan. Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M., menerima audiensi Lembaga Adat Bone di Rumah Jabatan Bupati Bone, Kamis (8/1/2026).

Audiensi tersebut dihadiri oleh Andi Baso Hamid Pabbenteng bersama Abdi Mahesa, yang membahas langkah strategis aktualisasi peran Lembaga Adat Bone di tengah dinamika masyarakat modern. Turut mendampingi Bupati, Plt Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bone, Edy Saputra Syam, S.STP., M.Si.

Dalam suasana dialog yang hangat dan penuh refleksi sejarah, pertemuan ini menyoroti rencana perombakan (reshuffle) kepengurusan Lembaga Adat Bone agar lebih adaptif, responsif, dan mampu berfungsi optimal sebagai garda terdepan pelestarian adat, budaya, serta edukasi sejarah Bone.

Bupati Andi Asman Sulaiman menegaskan bahwa Lembaga Adat Bone memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran kolektif masyarakat terhadap jati diri daerah. Menurutnya, pemahaman sejarah Bone di tengah masyarakat masih perlu diperkuat secara serius.

“Kalau ditanya apa sejarah Bone, tentu masih banyak yang kurang mengetahui. Ini yang penting untuk terus diedukasi,” tegasnya.

Ia mendorong agar kepengurusan Lembaga Adat Bone tidak hanya terpusat di tingkat kabupaten, tetapi diperluas hingga ke tingkat kecamatan. Dengan begitu, nilai-nilai adat dan sejarah dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas dan merata.

Bupati juga secara tegas meminta agar revisi kepengurusan benar-benar diisi oleh sosok yang memiliki kepedulian dan pemahaman mendalam terhadap adat, budaya, dan sejarah Bone.

“Tolong revisi kepengurusan, masukkan orang-orang yang betul-betul peduli dengan budaya, adat, dan sejarah, serta punya keinginan melihat Bone lebih baik,” ujarnya.

Tak hanya soal struktur kelembagaan, Bupati Andi Asman Sulaiman juga menyinggung pentingnya penulisan dan pelestarian situs-situs sejarah di Kabupaten Bone. Salah satu yang menjadi perhatian khusus adalah Tanah Bangkalae, yang menurutnya memerlukan penjelasan sejarah yang jelas dan tertulis.

“Seperti Tanah Bangkalae, kita akan menulis prasasti sejarahnya di sana. Kenapa bisa ada Tanah Bangkalae. Banyak yang tidak tahu sejarahnya, padahal orang Bone harus tahu,” ungkapnya.

Selain itu, pelestarian bahasa daerah juga menjadi perhatian serius. Bupati berharap Lembaga Adat Bone turut aktif menjaga penggunaan bahasa daerah yang baik dan benar agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman.

Audiensi ini diharapkan menjadi titik awal penguatan sinergi antara Pemerintah Kabupaten Bone dan Lembaga Adat Bone. Lebih dari sekadar simbol budaya, Lembaga Adat diharapkan tampil sebagai mitra strategis pemerintah dalam menjaga, merawat, dan mengembangkan nilai-nilai adat, budaya, dan sejarah Bone sebagai identitas yang hidup dan berkelanjutan. (*)