BONE–Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Peternakan sukses menggelar Seminar Nasional bertema “Agropreneur Muda di Era Digital: Inovasi, Regulasi, dan Transformasi untuk Menyongsong Peternakan di Era VUCA.” Kegiatan ini menjadi ruang strategis bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan, memperkuat kesiapan, dan membangun pola pikir adaptif dalam menghadapi dunia peternakan modern yang kian dipengaruhi teknologi serta dinamika pasar global.
Diselenggarakan dengan penuh antusiasme, seminar ini menghadirkan tiga narasumber dari lembaga berbeda yang menawarkan perspektif komprehensif terkait tantangan dan peluang menjadi agropreneur di era digital.
Pemateri pertama, Drh. Subaedy Yusuf, MP dari Farmer Support Center DDU Indonesia, menekankan bahwa masa depan sektor peternakan sangat bergantung pada keterlibatan generasi muda yang kreatif dan berani berinovasi. Menurutnya, keberhasilan seorang agropreneur modern tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, tetapi juga oleh mindset kewirausahaan, efisiensi dalam proses produksi, hingga manajemen kesehatan ternak yang tepat. “Generasi muda harus memiliki keberanian untuk beradaptasi dan menciptakan solusi baru,” tegasnya.
Sesi selanjutnya dibawakan oleh Rizqan Halalah Mz, M.MSi dari BBPSDMP Kominfo Makassar yang mengulas pentingnya digitalisasi dalam peternakan dan agribisnis. Rizqan menyoroti bahwa penguasaan teknologi digital, literasi data, serta pemanfaatan berbagai platform komunikasi kini menjadi kebutuhan mendasar bagi para pelaku usaha. Digitalisasi membuka peluang lebih luas untuk mengakses informasi, memperluas jaringan pemasaran, serta meningkatkan efektivitas usaha di tengah kondisi dunia yang serba cepat dan tidak menentu. Dalam era VUCA—Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity—transformasi digital menjadi salah satu strategi utama untuk bertahan dan bersaing.
Pemateri ketiga, Prof. Dr. Muhammad Ihsan Andi Dagong, S.Pt., M.Si, Wakil Dekan III Universitas Hasanuddin, menghadirkan materi yang tak kalah menarik mengenai pengembangan genetik dalam dunia peternakan. Beliau memaparkan inovasi genetik sebagai kontribusi nyata perguruan tinggi dalam meningkatkan produktivitas dan kualitas ternak di Indonesia. Salah satu inovasi tersebut adalah ALOPE Unhas 1, yang menjadi bukti bahwa riset genetik memiliki peran strategis dalam mewujudkan industri peternakan yang lebih tangguh, efisien, dan berorientasi masa depan.
Melalui pelaksanaan seminar ini, Himpunan Mahasiswa Ilmu Peternakan berkomitmen mendorong lahirnya generasi agropreneur yang inovatif, melek digital, dan siap menghadapi tantangan industri peternakan modern. Harapannya, para mahasiswa tidak hanya menjadi lulusan yang kompeten, tetapi juga mampu menjadi motor penggerak kemajuan peternakan Indonesia yang berkelanjutan.
Seminar ini tidak sekadar menjadi forum belajar, tetapi juga momentum penting untuk menumbuhkan semangat transformasi di kalangan mahasiswa—bahwa masa depan peternakan dapat menjadi lebih cerah apabila dikelola oleh sumber daya manusia yang cerdas, kreatif, dan progresif. (*)



Tinggalkan Balasan