BONE– Di tengah padatnya agenda pemerintahan, kepedulian seorang pemimpin kembali diuji oleh panggilan kemanusiaan. Sabtu, 21 Februari 2026, sebuah telepon dari perantauan di Timika, Papua Tengah, menghubungkan harapan seorang warga dengan tangan kepedulian Bupati Bone, Andi Asman Sulaiman.
Adalah Apriadi, pria kelahiran Watampone, 10 April 1993, warga Desa Solo, Kecamatan Dua Boccoe, Kabupaten Bone, yang memberanikan diri menghubungi langsung orang nomor satu di Bumi Arung Palakka itu. Dari seberang nusantara, ia menyampaikan kondisi kesehatannya yang kian memburuk. Tak lagi mampu bekerja, sementara kondisi keuangan tak memungkinkan untuk pulang kampung.
Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Bone, H. Anwar, SH., M.Si., MH, mengungkapkan bahwa panggilan itu bukan sekadar keluhan, melainkan permohonan pertolongan yang tulus. Apriadi meminta bantuan agar bisa kembali ke tanah kelahirannya karena sakit dan tidak memiliki biaya.
Namun sebagai kepala daerah, kehati-hatian tetap menjadi prioritas. Untuk memastikan identitas dan domisili yang bersangkutan, Bupati Bone segera berkoordinasi dengan Kepala Dinas Dukcapil Bone, H. Andi Saharuddin. Penelusuran data administrasi dilakukan secara cepat dan akurat. Hasilnya, Apriadi benar tercatat sebagai warga Kabupaten Bone.
Tak berhenti di situ, Bupati bahkan melakukan video call bersama Apriadi dan Kadisdukcapil. Dari layar ponsel itu, tergambar jelas kondisi sang perantau yang tengah berjuang melawan sakit di negeri orang. Percakapan singkat itu menjadi momen yang menyentuh seorang pemimpin menyaksikan langsung kondisi warganya yang membutuhkan uluran tangan.
Tanpa berpikir panjang, Bupati Bone memutuskan untuk menanggung secara pribadi seluruh biaya pemulangan Apriadi dari Timika ke Bone. Bukan hanya itu, ia juga memastikan setibanya di kampung halaman, Apriadi akan langsung mendapatkan pelayanan kesehatan di rumah sakit pemerintah dan memastikan bahwa yang bersangkutan bisa mendapatkan pekerjaan di kampung halaman sendiri sesuai dengan keahliannya.
Langkah ini bukan sekadar respons administratif, melainkan cerminan empati. Di tengah berbagai program pembangunan yang terus digalakkan, perhatian terhadap satu nyawa tetap menjadi prioritas.
Bagi Apriadi, telepon itu mungkin adalah panggilan terakhir penuh harap. Namun bagi Bupati Bone, itu adalah panggilan tanggung jawab bahwa sejauh apa pun warganya merantau, pemerintah daerah tetap hadir sebagai rumah yang siap menyambut dan melindungi.
Kisah ini menjadi pengingat, bahwa kepemimpinan sejati tidak hanya diukur dari besarnya proyek yang dibangun, tetapi dari seberapa cepat dan tulus tangan itu terulur saat rakyatnya membutuhkan. (*)



Tinggalkan Balasan