BONE–Di balik gagasan besar, selalu ada jiwa-jiwa besar yang mendorongnya. Di Kabupaten Bone, dua sosok pemimpin tampil sebagai motor penggerak transformasi sosial lewat pendidikan: H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., MM dan Dr. H. Andi Akmal Pasluddin, MM. Duet pemimpin yang dikenal dengan tagline “BerAmal” ini, menyatakan komitmennya dalam mendukung penuh program Kementerian Sosial Republik Indonesia, sebagaimana tertuang dalam Surat Nomor: S-33/MS/PR.04.01/3/2025, tertanggal 11 Maret 2025.

Tujuannya begitu jelas dan menyentuh: mengentaskan kemiskinan melalui akses pendidikan yang merata dan terjangkau.

“Kami ingin menjadi bagian dari perubahan itu,” ujar Bupati Bone dalam sebuah pernyataan resmi. “Komitmen kami bukan hanya dalam bentuk kata-kata, tetapi aksi nyata. Sekolah Rakyat adalah solusi untuk mereka yang selama ini tertinggal dari pendidikan formal. Kami siap jadi mitra aktif.”

Sekolah Rakyat ini bukan sekadar wacana, melainkan gagasan yang tengah bergerak menuju realisasi. Rencananya, kawasan pendidikan terpadu seluas 5 hektare akan dibangun di Kabupaten Bone, menyasar anak-anak dari keluarga miskin yang selama ini nyaris tak punya kesempatan mengenyam pendidikan layak. Bone menjadi salah satu dari dua kabupaten di Sulawesi Selatan yang akan disurvei langsung oleh tim dari Kementerian PUPR pada 11 April 2025. Pemerintah daerah berharap, lahan yang telah disiapkan bisa segera diterima sebagai lokasi pembangunan.

“Ini bukan proyek biasa,” lanjut sang Bupati. “Ini adalah jalan keluar dari lingkaran kemiskinan. Sekolah ini bisa mengubah masa depan mereka.”

Konsep Sekolah Rakyat memang tergolong ambisius: sebuah kawasan pendidikan berasrama dari jenjang SD hingga SMA dengan kapasitas hingga 600 siswa. Di dalamnya akan tersedia asrama, ruang belajar, dan pusat pelatihan keterampilan. Pemerintah pusat bertanggung jawab atas pembangunan fisik serta penggajian tenaga pendidik, sementara pemerintah daerah mengambil bagian dalam penyediaan infrastruktur pendukung.

Yang menarik, pendekatan ini bukan hanya bersifat struktural, tetapi juga kultural. Pendidikan berbasis masyarakat menjadi fondasi utama. “Kami percaya perubahan tidak datang dari atas ke bawah, tapi dari akar rumput. Sekolah Rakyat harus menjadi milik dan kebanggaan masyarakat itu sendiri,” katanya.

Di bawah naungan Kementerian Sosial RI, Sekolah Rakyat menjadi simbol harapan. Harapan untuk anak-anak yang sebelumnya tak pernah berani bermimpi karena keterbatasan ekonomi. Harapan untuk para orang tua yang ingin melihat anak-anaknya hidup lebih baik daripada mereka.

Dengan kolaborasi lintas OPD, dukungan pemerintah pusat, dan semangat BerAmal yang membara, Bone kini berdiri di garis depan dalam membangun masa depan yang lebih cerah. Sekolah Rakyat adalah bukti bahwa mimpi besar bisa diwujudkan, jika kita memiliki kemauan yang kuat dan kepemimpinan yang berpihak pada rakyat.
Dan di Kabupaten Bone, mimpi itu mulai menampakkan bentuknya. (*)