BONE– Bakungnge Desa Mappesangka, Kecamatan Ponre, terasa berbeda pada Kamis, 19 Maret 2026. Di tengah hamparan perkampungan yang tenang, kediaman H. Andi Amran Sulaiman dipenuhi ratusan tamu dari berbagai kalangan. Dari pejabat tinggi hingga masyarakat setempat, semua larut dalam kebersamaan pada momentum buka puasa bersama yang sarat makna.

Di beranda rumah yang menjadi saksi perjalanan hidupnya, Menteri Pertanian RI itu menyambut hangat para undangan. Hadir di antaranya sang adik, Andi Sudirman Sulaiman, serta Andi Asman Sulaiman. Turut pula anggota Komisi III DPR RI, Andi Amar Ma’ruf Sulaiman, bersama jajaran Dirjen, Direktur, unsur Forkopimda, OPD, dan masyarakat yang memadati lokasi.

“Terima kasih atas kedatangannya. Ini sebuah kehormatan. Setiap tahun kami rindu suasana seperti ini, sehingga selalu diupayakan pulang kampung saat lebaran,” ujar Amran dengan penuh kehangatan, disambut senyum dan anggukan para hadirin.

Namun, momen kebersamaan itu tidak hanya menjadi ajang silaturahmi. Di hadapan masyarakat kampung halamannya, Amran berbagi cerita tentang capaian besar sektor pertanian Indonesia. Ia mengungkapkan bahwa target swasembada pangan yang semula diproyeksikan empat tahun, mampu dicapai hanya dalam waktu satu tahun.

“Di tempat ini kami berdiri, target empat tahun swasembada, Alhamdulillah bisa kita capai dalam satu tahun,” ungkapnya dengan nada bangga.

Ia juga menyebutkan posisi Indonesia yang kini menjadi salah satu kekuatan pangan dunia. Bahkan, menurutnya, Indonesia berada di peringkat kedua setelah Brasil dalam capaian tertentu di sektor pertanian, dengan ekspor mencapai 29 persen. Tak hanya itu, stok beras nasional yang dikelola Bulog disebutnya mencapai 4 juta ton—angka tertinggi sepanjang sejarah Republik Indonesia.

“Ini semua berkat doa kita semua,” katanya, merendah.

Dalam kesempatan tersebut, Amran juga memaparkan rencana besar pembangunan di Kabupaten Bone. Salah satunya adalah pembangunan pabrik pakan dan ternak terbesar di Indonesia Timur yang akan berlokasi di Mappesangka, dengan nilai investasi mencapai Rp1,7 triliun.

Pabrik tersebut dirancang terintegrasi, mulai dari penyediaan bibit ayam hingga produksi telur, yang diharapkan menjadi salah satu penopang program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Pulau Sulawesi. Selain itu, proyek ini diyakini mampu menekan angka stunting sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat lokal.

“Targetnya selesai satu tahun. Ini untuk rakyat,” tegasnya.

Di sektor lain, Amran menyoroti kebijakan penurunan harga pupuk hingga 20 persen yang disertai peningkatan ketersediaan. Ia juga menegaskan komitmennya dalam menertibkan distribusi pupuk dengan mencabut izin ribuan distributor nakal di seluruh Indonesia.

“Memang pahit, tapi ini demi masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Tak hanya itu, ia mendorong masyarakat untuk memanfaatkan potensi pertanian dengan menanam komoditas unggulan seperti kelapa, kakao, pala, cengkeh, dan tebu. Ia bahkan menyebut, keberhasilan Indonesia dalam swasembada pangan kini mulai menarik perhatian dunia, hingga banyak negara datang untuk belajar.

Pengakuan internasional pun telah diraih, termasuk penghargaan dari Food and Agriculture Organization, sebagai bentuk apresiasi atas capaian sektor pertanian Indonesia.

Menutup sambutannya, Amran menegaskan bahwa seluruh pejabat adalah pelayan rakyat. Ia juga mengungkapkan rencana pengembangan infrastruktur di daerah, mulai dari perpanjangan runway bandara hingga pembangunan pelabuhan internasional.

“Ekonomi kerakyatan sekarang kita gerakkan. Kita hentikan impor,” tandasnya.

Di bawah langit Ponre yang mulai gelap, adzan magrib pun berkumandang. Suara itu menjadi penanda berbuka, sekaligus simbol harapan bahwa dari kampung sederhana ini, gagasan besar untuk kemandirian bangsa terus tumbuh dan mengakar. (*)