BONE– Di tengah bayang-bayang krisis iklim global yang sempat memuncak pada 2023 hingga 2024, optimisme justru datang dari sektor yang paling mendasar: pangan. H. Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian Republik Indonesia, mengungkapkan bahwa periode El-Nino tersebut merupakan yang paling keras dalam beberapa tahun terakhir. Namun, di balik tantangan itu, pemerintah telah lebih dulu menyiapkan langkah antisipatif yang kini mulai menunjukkan hasil nyata.
“Paling keras El-Nino tahun 2023 dan 2024. Namun kita sudah siapkan infrastrukturnya, irigasi ada 1 juta hektar, puluhan ribu pompa. Ada juga oplah dan cetak sawah,” ujar Amran dengan nada mantap.
Pernyataan itu bukan sekadar retorika. Ia menggambarkan fondasi ketahanan pangan nasional yang dibangun secara sistematis. Program optimalisasi lahan (oplah) dan pencetakan sawah baru menjadi bagian dari strategi besar untuk memastikan produksi tetap terjaga, bahkan di tengah tekanan iklim ekstrem.
Hasilnya mulai terasa. Untuk pertama kalinya dalam sejarah sejak Indonesia merdeka, stok beras nasional di bulan Maret mencapai angka fantastis: 4 juta ton. Sebuah capaian yang tidak hanya simbolis, tetapi juga strategis dalam menjaga stabilitas harga dan pasokan.
“Bulan depan kita target mencapai 5 juta ton beras. Bahkan kita sudah sewa gudang,” lanjutnya.
Lonjakan stok ini menunjukkan bahwa negara tidak sekadar bertahan, tetapi juga bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Gudang-gudang disiapkan, cadangan diperkuat, dan distribusi diperhatikan secara serius.
Andi Amran juga menyoroti peran kepemimpinan nasional dalam menjaga sektor pangan tetap stabil. Ia memuji insting kuat Presiden RI Bapak Prabowo Subianto dalam membaca situasi global dan mengambil langkah preventif.
“Inilah luar biasanya Bapak Presiden RI. Instingnya sangat kuat, mempersiapkan pangan dengan baik. Kalau pangan tidak baik, di tengah kegoncangan seperti ini, apa kira-kira yang terjadi?” katanya retoris.
Pertanyaan itu seakan menjadi pengingat: pangan bukan sekadar komoditas, tetapi penentu stabilitas sosial. Ketika negara lain dilanda gejolak harga dan kelangkaan, Indonesia justru mampu menjaga keseimbangan.
Meski di beberapa titik masih terjadi kenaikan harga, Amran menilai kondisi saat ini jauh lebih terkendali dibanding sebelumnya. Stabilitas ini menjadi alasan untuk bersyukur, sekaligus bukti bahwa strategi yang ditempuh berada di jalur yang tepat.
Di ujung pernyataannya, nada formal itu mencair menjadi lebih personal. Di tengah kesibukan sebagai menteri, ia tetap seorang anak daerah yang merindukan kampung halaman.
“Alhamdulillah, sehingga saya pun bisa pulang berlebaran di kampung halaman di Bone bersama keluarga,” tuturnya.
Sebuah penutup yang sederhana, namun sarat makna: bahwa di balik kebijakan besar dan angka-angka strategis, tujuan akhirnya tetap sama menjaga kehidupan, memastikan ketersediaan pangan, dan menghadirkan ketenangan bagi masyarakat hingga ke pelosok, termasuk di tanah kelahirannya, Bone. (*)



Tinggalkan Balasan