BONE–Suasana pagi di salah satu sekolah di Kabupaten Bone terasa berbeda dari biasanya. Hari itu, Senin, 2 Juni 2025, halaman sekolah menjadi saksi bisu langkah baru dalam dunia pendidikan dan pertanian. Seorang penyuluh pertanian berdiri tegap di tengah lapangan, bertindak sebagai Inspektur Upacara. Bukan kepala sekolah, bukan pula guru, tetapi penyuluh pertanian—simbol dimulainya integrasi dunia pertanian dalam lingkungan pendidikan.

Inilah wajah baru dari program “Pertanian Masuk Sekolah,” sebuah inisiatif yang tak sekadar seremonial, tetapi berorientasi jangka panjang: menciptakan generasi muda yang peduli dan berperan aktif dalam pertanian. Dalam amanatnya, penyuluh pertanian mengajak siswa untuk memahami pentingnya pertanian sebagai pilar ketahanan pangan nasional. Mereka didorong untuk mengambil bagian dalam budidaya tanaman pangan di lingkungan sekolah—mulai dari cabai, tomat, hingga aneka sayuran.

Program ini disambut antusias oleh berbagai kalangan, terutama oleh Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., MM. Dalam pernyataannya, beliau menekankan pentingnya edukasi pertanian sejak usia dini.

“Bone adalah daerah agraris. Banyak masyarakat kita yang menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Maka dari itu, sudah saatnya kita menanamkan nilai-nilai pertanian kepada anak-anak kita sejak mereka duduk di bangku sekolah,” ungkap Bupati.

Bupati Asman Sulaiman juga menyampaikan bahwa Kabupaten Bone telah resmi meluncurkan program Pertanian Masuk Sekolah. Tidak hanya berhenti pada penyuluhan dan edukasi, pemerintah daerah juga mendukung program ini secara nyata. Salah satunya melalui penguatan Program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) di sekolah-sekolah.

“Kita sudah salurkan bibit tanaman ke sekolah-sekolah melalui Dinas Pertanian. Harapannya, sekolah bisa menjadi laboratorium kecil yang mengajarkan anak-anak cara bertani, sekaligus menjadi solusi nyata dalam mendukung swasembada pangan,” tambahnya.

Langkah ini seolah menjadi napas segar di tengah makin jauhnya generasi muda dari dunia pertanian. Dengan pendekatan edukatif dan praktis, sekolah bukan lagi hanya tempat menimba ilmu secara teori, melainkan juga lahan penyemaian masa depan pangan Indonesia.

Melalui program ini, Kabupaten Bone menegaskan bahwa pertanian bukan warisan masa lalu yang harus ditinggalkan, melainkan warisan masa depan yang harus dijaga dan dikembangkan oleh generasi muda sejak dini. Dan itu dimulai dari tempat yang paling mulia: sekolah. (*)