BONE– Desa Corawali, Kecamatan Barebbo, Senin (16 Februari 2026), terasa lebih hidup dari biasanya. Di tengah deretan kandang ayam petelur yang tertata rapi, senyum warga menyambut kedatangan Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., MM bersama Ketua Tim Penggerak PKK Bone Hj. Maryam Andi Asman. Hari itu bukan sekadar kunjungan kerja, tetapi momentum panen telur perdana dari Program Bantuan Pemerintah Ayam Petelur Merah Putih Tahun Anggaran 2025 yang dikelola oleh Kelompok Tani Bottoe I dan Kelompok Tani Lempang.

Turut hadir mendampingi, Camat Barebbo A. Yusuf, S.STP., M.Si, serta Pemerintah Desa Corawali yang menyaksikan langsung bagaimana program ini mulai menunjukkan hasil nyata bagi masyarakat.

Bantuan ayam petelur ini berasal dari Balai Besar Veteriner Maros, Kementerian Pertanian RI. Program tersebut tidak hanya dimaksudkan untuk meningkatkan produksi pangan lokal, tetapi juga menjadi model pemberdayaan ekonomi berbasis kelompok masyarakat.

Bupati Bone menegaskan bahwa program ini dirancang agar memiliki dampak sosial yang luas. Ke depan, program serupa akan menyasar keluarga kurang mampu yang masuk kategori miskin ekstrem, sehingga mampu menciptakan sumber penghasilan baru bagi masyarakat.

“Program ini jelas pasarnya. Telur bisa masuk ke pasar tradisional, sekaligus menjadi pemasok kebutuhan Makan Bergizi Gratis (MBG),” ungkapnya.

Konsep kerja berkelompok menjadi kekuatan utama program ini. Selain memudahkan pengelolaan, model tersebut juga memperkuat gotong royong antaranggota tani dalam mengelola usaha secara berkelanjutan.

Pengelola program, Fikar, menjelaskan bahwa bantuan ayam petelur telah berproduksi sejak satu bulan terakhir. Hasilnya cukup menggembirakan. Dalam satu minggu, kelompok sudah bisa melakukan panen rutin dengan produktivitas tinggi.

“Ayam ras ini bisa menghasilkan hingga 24 rak telur per hari, dan satu rak berisi 30 butir telur. Saat ini sudah ada sekitar 300 rak produksi yang terjual untuk kebutuhan MBG,” jelasnya.

Angka tersebut menunjukkan bahwa program tidak hanya berjalan, tetapi juga langsung terserap pasar. Hal ini menjadi sinyal positif bahwa sektor peternakan skala kelompok mampu menjawab kebutuhan konsumsi lokal sekaligus menopang program pemerintah di bidang pemenuhan gizi.

Keberhasilan awal program ini tidak lepas dari dukungan sarana produksi yang memadai. Pemerintah memberikan bantuan ayam pulet sebanyak 1.200 ekor, bekerja sama dengan PT. Charoen Pokphand Indonesia. Selain itu, kebutuhan pakan juga dipenuhi hingga 10 ton atau setara 200 sak.

Menurut pengelola, kelompok tani hanya diminta menyiapkan lokasi dan memastikan manajemen kandang berjalan baik. Skema ini membuat masyarakat lebih fokus pada pemeliharaan dan pengembangan usaha.

Di balik aktivitas panen telur itu tersimpan optimisme besar. Program Ayam Petelur Merah Putih bukan sekadar bantuan ternak, melainkan upaya membangun kemandirian ekonomi dari desa. Ketika produksi berjalan stabil dan pasar telah tersedia, maka peternakan rakyat bisa menjadi salah satu penopang ekonomi keluarga.

Panen di Desa Corawali menjadi gambaran bahwa kolaborasi antara pemerintah, kelompok tani, dan sektor swasta dapat melahirkan solusi nyata bagi kesejahteraan masyarakat. Dari kandang sederhana di Barebbo, harapan baru tumbuh — satu butir telur demi satu langkah menuju ekonomi desa yang lebih kuat. (*)