BONE– Suasana penuh warna, kreativitas, dan kebanggaan terasa begitu kuat di lingkungan UPT SMAN 25 Bone saat siswa kelas XII angkatan Astreva 17 menggelar Pagelaran dan Pameran Seni, Budaya, dan Ko-kurikuler Nusaraya. Kegiatan yang sarat makna ini tidak sekadar menjadi ajang hiburan, tetapi juga ruang pembelajaran, ekspresi, dan refleksi budaya yang mendalam.
Hadir mewakili Plt. Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah III Bone, Kasi Pembinaan SMA Cabang Dinas Pendidikan Wilayah III Bone, Dr. H. Shabiel Zakaria, S.Pd., M.Pd, memberikan dukungan sekaligus apresiasi atas penyelenggaraan kegiatan yang dinilai luar biasa tersebut.
Turut hadir pula berbagai unsur penting pendidikan dan masyarakat, di antaranya pengawas sekaligus pembina sekolah Ibu Awaliah Mustafa, jajaran Polsek Bengo, Kejaksaan Bengo, komite sekolah, ikatan alumni, pengurus PGRI, serta Kepala UPT SMAN 25 Bone, Andi Ira Edlwaiz. Di balik suksesnya acara, konsep kreatif yang kuat juga lahir dari tangan konseptor acara, Mr. Yandhi Pratama, yang merancang pagelaran dengan nuansa profesional dan artistik.
Pagelaran dibuka dengan berbagai pertunjukan seni yang memukau. Tarian, karya kreatif, dan penampilan siswa menjadi suguhan pembuka yang langsung mengundang decak kagum para tamu undangan. Setiap persembahan seakan menegaskan bahwa pembelajaran di sekolah tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui panggung kreativitas.
Dalam sambutannya, Kepala UPT SMAN 25 Bone, Andi Ira Edlwaiz, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi terhadap suksesnya kegiatan, terutama siswa kelas XII beserta tim kerja yang telah mencurahkan tenaga dan gagasan.
“Terima kasih tak terhingga kepada seluruh pihak yang mendukung, khususnya siswa kelas XII dan tim kerja yang telah menunjukkan dedikasi luar biasa,” ungkapnya.
Pengawas sekaligus pendamping sekolah, Hj. Awaliah, memberikan apresiasi tinggi terhadap kualitas pelaksanaan acara. Menurutnya, kegiatan tersebut sudah layak dinilai berskala nasional. Namun ia juga mengingatkan agar kegiatan tidak dimaknai sekadar sebagai ekspresi kegembiraan semata.
Ia menegaskan bahwa seluruh kegiatan sekolah tetap harus mengacu pada delapan standar kelulusan Profil Pelajar Pancasila, yang akan menjadi bahan evaluasi dalam proses pendampingan sekolah ke depan.
Saat memberikan sambutan penutup, Dr. H. Shabiel Zakaria mengajak seluruh tamu VIP dan para pendukung acara untuk naik bersama ke panggung megah, sebagai simbol kebersamaan dalam merayakan karya siswa.
Dalam sambutannya, ia mengungkapkan kekagumannya terhadap kualitas pertunjukan yang menurutnya sudah sekelas pementasan dunia.
“Saya mengapresiasi acara ini. Ini sudah layak disebut pementasan dunia, hanya kebetulan saja digelar di tingkat kecamatan,” ujarnya disambut tepuk tangan hadirin.
Ia bahkan berharap skala kegiatan serupa dapat terus ditingkatkan hingga level nasional, bahkan internasional.
Dalam momen reflektif, Shabiel Zakaria juga menceritakan epos budaya Bugis, Sureq I La Galigo, yang dikenal sebagai salah satu karya sastra terpanjang di dunia. Ia menjelaskan bagaimana karya tersebut disusun oleh Colli Pujie, seorang cendekiawan perempuan Bugis abad ke-19, atas permintaan misionaris Belanda Benjamin Frederik Matthes, yang kemudian menyunting dan menyalin naskah tersebut.
Menurutnya, semangat yang hadir dalam pagelaran seni di SMAN 25 Bone terasa sejalan dengan energi budaya yang pernah membawa I La Galigo tampil di panggung dunia.
“Suasana pagelaran ini seolah menyerap semangat I La Galigo ketika dipentaskan di luar negeri,” tutur Shabiel.
Di akhir sambutannya, ia menyampaikan pesan khusus kepada siswa kelas XII agar terus melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Ia juga meminta dukungan penuh dari para orang tua yang hadir agar tidak ragu mendampingi anak-anak mereka mengejar cita-cita.
Pagelaran Nusaraya akhirnya tidak hanya menjadi akhir dari tugas mata pelajaran, tetapi juga menjadi simbol transformasi pembelajaran menjadi karya besar. SMAN 25 Bone berhasil membuktikan bahwa kreativitas siswa, jika diberi ruang yang tepat, mampu melahirkan pertunjukan yang spektakuler sekaligus bermakna. (*)



Tinggalkan Balasan