BONE–Di balik dinding tinggi dan jeruji besi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Watampone, suasana berbeda terlihat di ruang Keamanan dan Ketertiban (Kamtib), Rabu pagi (6/8). Bukan sekadar rutinitas administratif atau pengawasan napi yang biasa mereka jalankan. Hari itu, para petugas keamanan sibuk membersihkan dan merawat senjata api alat vital yang menjadi garda terdepan dalam menjaga stabilitas dan ketertiban di balik jeruji.

Dipimpin langsung oleh Kepala Seksi Keamanan dan Ketertiban, Andi Muhammad Sibli Baso, kegiatan ini menyatukan kedisiplinan, tanggung jawab, dan keahlian teknis dalam satu ritual penting: perawatan senjata api inventaris lapas.

Setiap laras dibersihkan, setiap mekanisme tembak diperiksa, dan setiap komponen dibongkar dengan ketelitian penuh. Tak ada ruang untuk kelalaian. Prosedur dilakukan sesuai standar operasional, dengan pengawasan ketat dan pencatatan detail dalam buku pemeliharaan.

“Ini bukan hanya soal kebersihan senjata, tapi soal kesiapsiagaan. Senjata harus selalu dalam kondisi optimal, karena dalam situasi darurat, tidak ada ruang untuk kesalahan,” jelas Andi Sibli dengan penuh keseriusan.

Senjata api di lapas bukan sekadar alat—ia simbol tanggung jawab besar. Hal ini ditegaskan oleh Kepala Lapas Watampone, Saripuddin Nakku, yang menyatakan bahwa pemeliharaan rutin bukan hanya kewajiban, tapi komitmen moral dan profesional.

“Senjata bukan hanya kelengkapan, tapi amanah besar. Kami ingin memastikan setiap personel siap, dan setiap perlengkapan berada dalam kondisi terbaiknya,” ujarnya.

Dalam suasana yang penuh kesadaran akan tanggung jawab, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa keamanan di lapas bukan hanya dibangun oleh tembok dan pagar tinggi, tapi oleh profesionalisme dan kesiapsiagaan petugas yang menjaga dari dalam.

Melalui kegiatan ini, Lapas Watampone menegaskan komitmennya: menjaga keamanan tak hanya dengan kekuatan, tapi dengan disiplin dan perawatan penuh tanggung jawab. (*)