BONE– Menjelang arus mudik Idulfitri 1447 Hijriah, perhatian pemerintah tidak hanya tertuju pada kelancaran lalu lintas, tetapi juga keselamatan dan kenyamanan para pemudik di perjalanan. Melalui kebijakan humanis, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan menghadirkan program Masjid Ramah Mudik, sebuah inisiatif yang memanfaatkan rumah ibadah sebagai tempat singgah bagi masyarakat yang melakukan perjalanan pulang kampung.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, Ali Yafid, mengimbau para pemudik agar tidak memaksakan diri saat merasa lelah di perjalanan.
“Kalau capek ki’ dalam perjalanan, singgahki istirahat. Jangan dipaksakan. Keselamatan jauh lebih penting,” pesannya.
Sebagai bentuk dukungan terhadap keselamatan pemudik, Kanwil Kemenag Sulsel telah menyiapkan 517 rumah ibadah yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan. Jumlah tersebut meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 492 masjid. Seluruh rumah ibadah yang terdaftar siap melayani pemudik selama 24 jam, baik pada fase arus mudik maupun arus balik Lebaran tahun 2026.
Selain masjid, sejumlah madrasah dan kantor urusan agama yang berada di sepanjang jalur utama mudik juga turut berpartisipasi dalam memberikan layanan bagi masyarakat yang membutuhkan tempat beristirahat sejenak.
Di Kabupaten Bone, program ini juga mendapat respons cepat dari jajaran Kementerian Agama setempat. Melalui koordinasi internal, sejumlah masjid di jalur strategis telah diobservasi dan disiapkan sebagai Masjid Ramah Mudik Idulfitri.
Salah satu yang ikut ambil bagian adalah Kantor Urusan Agama Kecamatan Ulaweng. Kepala KUA Ulaweng, Muhammad Saleh, menyebut Masjid Nurul Yaqin Lappalawa di Desa Sappewalie sebagai salah satu titik persinggahan yang sangat ideal bagi para pemudik.
Masjid tersebut dipilih bukan tanpa alasan. Selain berada tepat di jalur lintasan kendaraan, fasilitasnya dinilai sangat memadai untuk kebutuhan para pelintas.
“Masjid ini kami jadikan Masjid Ramah Mudik karena fasilitasnya lengkap. Ada AC, tersedia minuman seperti kopi dan teh, serta toilet yang sangat dekat dari area parkir,” ujar Muhammad Saleh.
Keunggulan lainnya adalah posisi toilet yang hanya berjarak sekitar dua meter dari kendaraan. Hal ini membuat pemudik, khususnya penumpang mobil dari arah Makassar menuju berbagai daerah di Kabupaten Bone, merasa lebih nyaman untuk singgah.
Di sekitar masjid tersebut juga terdapat salah satu ikon kuliner khas daerah. Sepanjang kurang lebih satu kilometer, para pedagang menjajakan sukun bakar—makanan yang akrab disebut bakara dalam bahasa Makassar. Pemandangan deretan penjual sukun bakar ini kerap menarik perhatian para pelintas untuk berhenti sejenak.
“Banyak mobil penumpang dari Makassar yang senang singgah di sini karena fasilitasnya lengkap. Biasanya mereka berhenti untuk istirahat atau sekadar ke toilet karena jaraknya sangat dekat dari mobil,” tambahnya.
Muhammad Saleh juga menilai bahwa kenyamanan pemudik tidak selalu ditentukan oleh megahnya bangunan masjid. Menurutnya, banyak masjid yang luas dan memiliki area parkir besar, tetapi fasilitas sanitasi justru kurang nyaman karena letaknya jauh dan kondisi penerangan yang minim.
Karena itu, konsep Masjid Ramah Mudik lebih menitikberatkan pada akses yang mudah, fasilitas bersih, serta keramahan pengurus dalam melayani para musafir.
Melalui program ini, rumah ibadah tidak hanya menjadi tempat menunaikan salat, tetapi juga menjadi ruang singgah yang menenangkan bagi para pemudik yang sedang menempuh perjalanan panjang menuju kampung halaman. Dengan beristirahat sejenak, diharapkan perjalanan mudik Idulfitri tahun ini berlangsung lebih aman, nyaman, dan penuh berkah. (*)



Tinggalkan Balasan