BONE– Langkah kaki menyusuri jalanan bukan sekadar olahraga ringan, tetapi juga menjadi cara melihat denyut kehidupan kota secara lebih dekat. Jalan pagi yang telah menjadi aktivitas rutin Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., MM, kembali dimanfaatkan untuk memantau kebersihan dan kondisi lingkungan perkotaan, Senin, 16 Februari 2026.

Memulai rute dari Lapangan Merdeka Watampone, rombongan bergerak menyusuri Jalan Biru hingga Jl Andi Malla. Bupati didampingi Ketua Tim Penggerak PKK Bone, Hj. Maryam Andi Asman, bersama para kepala OPD. Jalan pagi itu bukan sekadar agenda simbolis, melainkan menjadi ruang dialog langsung antara pemerintah dan lingkungan yang setiap hari dijalani masyarakat.

Perhatian Bupati tertuju ketika tiba di jalur dua Jalan Biru, tepatnya di akses masuk Kantor Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Bone, Kelurahan Biru, Kecamatan Tanete Riattang. Sebuah lorong sederhana tampak berbeda. Ukiran dan ornamen menghiasi dinding, dipadukan dengan pesan-pesan berbahasa Bugis yang sarat makna.

Lorong itu dikenal sebagai Lorong Bugiz Bone Maberre. Di sepanjang jalur, terpampang ajakan kerja bakti, mural edukatif, hingga kebun sayur yang dirawat warga bersama kader PKK. Kombinasi estetika dan fungsi lingkungan inilah yang membuat Bupati berhenti sejenak, memperhatikan dengan antusias.

Ia mengapresiasi kreativitas masyarakat yang mampu mengubah lorong biasa menjadi ruang hidup yang produktif dan bernilai edukasi.

Menurut Bupati, Lomba Lorong Bunga dan Gizi (Bugiz) memang sengaja dihadirkan untuk menyemarakkan Hari Jadi Bone (HJB) Tahun 2026. Lebih dari sekadar lomba kebersihan, ajang ini menjadi ruang inovasi bagi camat, lurah, dan warga untuk menata wilayahnya secara kolaboratif.

“Bagaimana kreasi camat dan lurah bisa melibatkan masyarakat. Kalau selama ini lorong sering banjir karena sampah, sekarang melalui lomba ini dilakukan perbaikan drainase,” ungkapnya.

Lorong yang dulunya rawan genangan kini diarahkan menjadi kawasan yang bersih, hijau, dan produktif. Semangat gotong royong pun kembali hidup, termasuk lewat kegiatan pengecatan secara swakelola oleh warga.

Konsep Bugiz bukan hanya soal keindahan. Di balik tanaman bunga, tumbuh pula harapan tentang kesehatan warga. Tanaman hortikultura seperti cabai, tomat, sayuran daun, hingga berbagai tanaman bergizi ditanam sepanjang lorong.

Program ini diharapkan mampu berkontribusi terhadap peningkatan gizi masyarakat sekaligus menjadi langkah nyata dalam mengintervensi persoalan stunting. Lorong tidak lagi sekadar jalur penghubung antarrumah, tetapi berubah menjadi sumber pangan kecil yang bisa dimanfaatkan sehari-hari.

Di sisi lain, keberadaan tanaman dan perbaikan drainase membantu mengurangi risiko banjir, sementara elemen estetika mempercantik lingkungan permukiman.

Untuk mendorong partisipasi masyarakat, pemerintah menyiapkan hadiah yang tidak hanya menarik, tetapi juga bermanfaat langsung bagi lingkungan. Lorong dengan kategori gizi terbaik, misalnya, akan mendapatkan dukungan berupa green house, benih sayur dan buah, polybag, serta pupuk organik.

Selain itu, tersedia pula hadiah satu set pos kamling yang sudah dirakit dan siap dipasang, terutama bagi desa yang membutuhkan penguatan keamanan lingkungan. Ada juga bantuan tempat sampah, gerobak dorong, hingga pompa air sebagai solusi mengatasi genangan di wilayah rawan banjir.

Puncaknya, juara umum Lomba Lorong Bugiz akan diganjar hadiah utama berupa satu unit motor sampah — simbol bahwa kebersihan harus dijaga secara berkelanjutan, bukan hanya saat lomba berlangsung.

Bagi Bupati Bone, jalan pagi bukan sekadar olahraga atau agenda seremonial. Dari langkah-langkah kecil di sudut kota, lahir gagasan besar tentang bagaimana lingkungan bisa dikelola bersama. Lorong-lorong yang dulu dipandang biasa kini menjadi wajah baru kota bersih, sehat, dan penuh kreativitas. (*)