BONE–Dusun Weddae, Desa Patangnga, Kecamatan Tellu Siattinge, terasa berbeda. Warga berkumpul bukan untuk hajatan atau pesta, melainkan untuk bertemu langsung dengan sosok yang selama ini menjaga keamanan di wilayah mereka: Kapolres Bone AKBP Sugeng Setio Budhi, S.IK., M.Tr.Opsla.
Dalam kegiatan bertajuk Jum’at Curhat, sebuah program andalan Polres Bone, sang Kapolres turun langsung ke desa, bukan sekadar untuk menyampaikan pesan, tapi lebih penting dari itu untuk mendengarkan.
Didampingi para pejabat utama Polres Bone serta Kapolsek Tellu Siattinge AKP Andi Siregar, S.H., kehadiran AKBP Sugeng disambut hangat oleh Kepala Desa H. Ali Masda, para perangkat desa, dan tokoh masyarakat setempat. Tak ketinggalan, Bhabinkamtibmas Desa Patangnga Aiptu Suhati dan Babinsa Serda Syamsu Alam yang telah lama menjadi sahabat warga dalam menjaga ketertiban dan keamanan wilayahnya.
“Terima kasih atas sambutan hangat dan keterbukaan bapak-ibu semua. Kehadiran kami hari ini bukan hanya untuk berbicara, tapi juga untuk mendengar,” ucap Kapolres mengawali sambutannya.
Dan benar, suasana menjadi hangat dan penuh keakraban ketika sesi dialog dimulai. Warga dengan lugas menyampaikan berbagai keluhan dan harapan: mulai dari perlunya patroli malam yang lebih rutin, peningkatan penyuluhan hukum bagi remaja, hingga usulan pembinaan khusus untuk generasi muda agar terhindar dari bahaya narkoba dan pergaulan bebas.
Kapolres menanggapi dengan penuh perhatian, mencatat setiap masukan, dan bahkan memberikan beberapa solusi langsung di tempat. Ia juga menekankan bahwa keterlibatan masyarakat dalam menjaga kamtibmas sangat penting—komunikasi dua arah adalah kunci utama.
“Polisi bukan hanya penjaga hukum, tapi mitra masyarakat. Lewat kegiatan seperti ini, kami ingin memastikan bahwa suara masyarakat didengar langsung,” tambahnya.
Jum’at Curhat bukan sekadar seremonial. Di balik obrolan santai dan senyum yang saling dilempar, tumbuh kepercayaan yang makin kuat antara polisi dan masyarakat. Program ini menjadi ruang yang mempertemukan dua pihak dalam suasana egaliter—di mana pangkat dan jabatan diletakkan sejenak, diganti dengan sapaan akrab dan cerita keseharian.
Dan ketika pertemuan ditutup, warga kembali ke rumah masing-masing dengan perasaan lebih tenang, lebih dekat, dan lebih percaya bahwa aparat keamanan mereka bukan hanya hadir saat masalah datang, tetapi juga saat suara mereka ingin didengar.



Tinggalkan Balasan