BONE– Tinggal di desa sederhana di Kabupaten Bone, mimpi besar tumbuh dari tangan seorang anak petani. Dialah Muhammad Asrul Rafsanjani, siswa kelas XII SMA Negeri 3 Bone yang berhasil mengharumkan nama Indonesia dengan meraih medali emas pada Kejuaraan Dunia Hamaya Kun Khmer 2026 di Kamboja. Prestasi ini bukan sekadar kemenangan di atas ring, tetapi kisah panjang tentang tekad, kerja keras, dan semangat pantang menyerah.

Asrul lahir dan besar di Desa Kading, Kecamatan Barebbo. Ia merupakan anak ketiga dari empat bersaudara dalam keluarga petani yang hidup sederhana. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan dunia olahraga, khususnya seni bela diri. Ketertarikannya pada bela diri mulai tumbuh sejak duduk di bangku sekolah dasar.

Di kampung halamannya, Asrul mulai mengenal pencak silat Bugis. Ia berlatih dengan penuh semangat, meski saat itu belum pernah mengikuti kejuaraan resmi. Memasuki jenjang SMP, ia mencoba memperluas pengalaman dengan mempelajari karate. Namun perjalanan menuju prestasi masih terasa jauh.

Perubahan besar datang ketika Asrul memasuki kelas X di SMA Negeri 3 Bone. Di sekolah inilah ia bertemu dengan Dani, pelatih yang memperkenalkannya pada olahraga Muay Thai. Pertemuan itu menjadi titik balik dalam perjalanan hidupnya.

Di bawah bimbingan sang pelatih, Asrul mulai serius menekuni olahraga tersebut. Namun jalan menuju prestasi tidak selalu mulus. Dalam beberapa kejuaraan yang diikutinya, ia belum mampu mempersembahkan medali emas untuk Kabupaten Bone. Bahkan ia pernah tersingkir di babak delapan besar setelah kalah dari seorang kakak seniornya.

Kekalahan itu sempat membuatnya mencoba peruntungan di cabang olahraga tinju. Meski berlatih keras, hasil yang diharapkan juga belum datang. Namun kegagalan tidak membuatnya berhenti. Asrul kembali fokus pada Muay Thai dan terus meningkatkan kemampuan.

Kesabaran dan kerja kerasnya akhirnya membuahkan hasil. Setelah sekitar dua tahun menekuni Muay Thai, Asrul mengikuti Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Kun Khmer yang digelar di Makassar pada 5–6 Desember 2025. Dalam ajang tersebut, ia tampil luar biasa dan berhasil meraih medali emas.

Prestasi di tingkat nasional itu menjadi pintu besar bagi langkahnya ke panggung internasional. Asrul kemudian dipercaya memperkuat Tim Indonesia dalam Kejuaraan Dunia Kun Khmer 2026 di Kamboja pada kelas Junior Putra 56–59 kilogram.

Di ajang dunia itu, perjuangan Asrul kembali diuji. Ia harus menghadapi atlet-atlet tangguh dari berbagai negara. Dalam salah satu pertandingan, ia bertemu dengan atlet tuan rumah Kamboja, yang dikenal memiliki tradisi kuat dalam olahraga Kun Khmer. Namun dengan teknik dan strategi matang, Asrul berhasil mengatasi lawannya.

Pertandingan paling menegangkan terjadi di partai final, ketika ia harus berhadapan dengan atlet dari Filipina. Menurut Asrul, pertandingan tersebut sangat menantang karena lawannya memiliki kemampuan yang luar biasa.

“Lawan di final sangat kuat, tapi saya terus ingat arahan pelatih dan tetap fokus. Alhamdulillah saya bisa mengalahkan lawan dan mempersembahkan medali emas untuk Indonesia,” ujarnya dengan penuh haru.

Ketika bendera Merah Putih berkibar di arena kejuaraan dunia, perasaan bangga dan syukur bercampur menjadi satu dalam dirinya. Ia tidak menyangka perjalanan panjangnya dari desa kecil di Bone bisa mengantarkannya hingga ke podium dunia.

Namun di balik kemenangan itu, ada cerita perjuangan yang tidak mudah. Asrul mengakui bahwa selama mengikuti berbagai kejuaraan, ia sering menghadapi kendala biaya dan administrasi. Setiap event membutuhkan biaya yang tidak sedikit, sementara kondisi ekonomi keluarganya terbatas.

Bahkan dalam salah satu kejuaraan di Makassar, ia pernah harus tidur di masjid karena keterbatasan biaya akomodasi. Meski demikian, kondisi tersebut tidak pernah mematahkan semangatnya.

“Yang penting saya bisa bertanding dan memberikan yang terbaik untuk Bone dan Indonesia,” tuturnya.

Bagi Asrul, dukungan terbesar datang dari sang pelatih yang selalu memberikan motivasi dan dorongan setiap kali ia ingin mengikuti kejuaraan. Bimbingan itulah yang membuatnya tetap percaya diri untuk terus berjuang.

Kini, medali emas dari Kejuaraan Dunia Kun Khmer di Kamboja menjadi bukti bahwa mimpi besar bisa lahir dari desa kecil. Kisah Muhammad Asrul Rafsanjani tidak hanya menjadi kebanggaan bagi Kabupaten Bone, tetapi juga inspirasi bagi generasi muda bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih prestasi dunia. (*)