BONE – Siapa sangka tumpukan sampah plastik yang selama ini dianggap menjijikkan dan tak bernilai, justru menjadi jalan ibadah bagi banyak orang. Di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, sampah plastik kini bisa “berubah wujud” menjadi hewan kurban.

Melalui terobosan unik yang digagas oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bone, sebanyak 18 ton sampah plastik berhasil dikumpulkan dan dirupiahkan sebesar Rp18 juta. Dana ini kemudian digunakan untuk membeli sapi kurban, yang nantinya akan disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan, termasuk para pemulung dan petugas kebersihan yang selama ini berjibaku dengan sampah.

Kepala DLH Kabupaten Bone, Dray Vibrianto, S.IP., M.Si., menjelaskan bahwa gerakan ini bukan sekadar soal daur ulang. Lebih dari itu, ini adalah bentuk nyata keadilan sosial dan spiritual yang diwujudkan melalui lingkungan.

“Teman-teman pemulung yang selama ini tidak bisa berkurban, ternyata melalui sampah plastik mereka sudah bisa berkontribusi untuk berkurban,” ujar Dray.

Pengumpulan dilakukan melalui kerja bakti serta partisipasi aktif dari Bank Sampah, Satgas Kebersihan, dan para pemulung yang menyumbangkan plastiknya ke Bank Sampah yang berlokasi di Jl. Lapawawoi Karaeng Sigeri. Dari kerja bakti saja, diperkirakan terkumpul 3 hingga 4 ton sampah plastik. Selebihnya merupakan akumulasi dari sumbangan selama beberapa bulan terakhir.

Setiap hari, Bone menghasilkan 80 ton sampah, dan sekitar 20 persennya adalah plastik. Jika dihitung, potensi ekonomi dari sampah plastik ini bisa mencapai Rp20 juta per hari. Namun sayangnya, kesadaran untuk memilah dan mengolah sampah masih sangat rendah.

“Kendala kita di Bone ini masih soal karakter. Jarang orang mau urus sampah. Selama ini hanya petugas kebersihan yang memilah plastik di depo,” tambah Dray.

Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., MM, memberikan apresiasi tinggi terhadap inovasi ini. Ia menilai langkah ini tidak hanya menyentuh aspek lingkungan, tapi juga sosial dan keagamaan.

“Melalui momentum kurban ini, masyarakat yang sebelumnya belum mampu berkurban, kini bisa mewujudkannya lewat sampah plastik yang bernilai rupiah. Kita harap ke depannya hasil dari sampah plastik ini tidak hanya untuk kurban, tapi bisa menjadi pundi-pundi pendapatan bagi peningkatan sarana prasarana DLH, bahkan operasional dan bantuan sosial,” ujar Bupati.

Inovasi ini diyakini menjadi yang pertama di Indonesia, sebuah inspirasi bahwa bahkan dari hal yang paling remeh seperti plastik bekas, bisa lahir gerakan kemanusiaan yang besar. DLH Bone berharap pendekatan ini akan menular ke daerah lain, sekaligus mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah.

Kini, sampah plastik bukan lagi simbol kotoran—melainkan simbol kepedulian dan harapan. (*)